KI YogyaKI Yogya

Category : Cerita Penginspirasi

By KI Yogya

Terima Kasih, Pengajar

“Dia mengajar di HIS (Hollandsch-Inlandsche School)—sekolah khusus bumiputer, sekarang setara SD—Muhammadiyah di Cilacap. Dia juga giat di kepanduan Hizbul Wathan. Maklumlah, Sudirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang menanamkan nasionalisme tinggi. Kemudian ia melanjukan pendidikannya ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah di Solo.”

*

“Akhirnya tahun 1911, Agus Salim pulang ke Indonesia. Kepulangannya dari Tanah Suci ini boleh dikatakan sebagai titik tolak perjuangannya melawan Belanda. Agus Salim sempat bekerja pada dinas pekerjaan umum. Namun, ia keluar dari birokrasi Belanda dan mendirikan sekolah swasta di kampungnya di Kota Gadang. Hal ini dilakukannya hanya sebentar, Agus Salim kemudian berangkat lagi ke Jakarta, selanjutnya terjun ke dunia politik.”

*

“Salah satu trilogi HOS Tjokroaminoto yang termasyhur adalah ‘Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat’. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno. Pesannya kepada murid-muridnya ialah “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator“. Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya; MusoAliminKartosuwiryoDarsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya.”

*

“Dia memberikan latar belakang bagaimana peristiwa sejarah tersebut bisa terjadi. Dengan dibumbui gaya orasinya yang khas, ia mendramatisir pelajaran sejarahnya seperti sebuah adegan sandiwara. Menggerak-gerakkan tangan, melotot, berteriak, memukul meja, dan sebagainya untuk mendramatisir tokoh yang ia kisahkan. Soekarno memang minim metode dalam pengajaran sejarah, tapi ia benar-benar guru sejarah yang penuh percaya diri dan disukai anak didiknya.”.

Empat paragraf di atas menceritakan empat kisah berbeda dengan banyak kesamaan. Mereka adalah pengajar secara formal dan professional yang sebenarnya. Ya, mereka menjadi guru yang mengajar di depan murid-muridnya sebelum menjadi ‘agen’ dari kemerdekaan negeri ini. Mereka adalah Soedirman, Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan Soekarno.

Ini belum termasuk para penggerak negeri ini yang benar-benar terjun sebagai pendidik negeri ini sebagai seorang pendidik, seperti Ki Hajar Dewantara,  KH Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Kartini dan banyak lagi.

Kembali ke empat tokoh pertama yang saya sebutkan. Nama mereka harum karena usaha dan pemikiran mereka menjadi sumbangsih yang tak ternilai negeri ini. Dalam pemikiran saya secara pribadi, sepertinya jelas sekali menjadi seorang pengajar dan pendidik telah mempengaruhi cara ketiga tokoh dalam mengambil keputusan, cara mereka memimpin, cara mereka menyelasaikan permasalahan dan cara mereka berdiplomasi.

Mereka sudah megetahui kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bagi mereka yang terdidik dan terpelajar. Seperti cara Jendral Soedirman menjadi seorang komandan yang tidak pernah menganggap subordinate-nya sebagai bawahan, namun beliau melihat seperti dulu mengajar di sekolah, melihat pasukanya sebagai teman dan murid yang perlu dibimbing. Caranya lebih kepada mengarahkan daripada memerintah. Dengan cara yang baik rasa hormat pun muncul dari kalangan militer saat itu. Panglima tertinggi bangsa inipun dahulu pernah merasakan menjadi Guru.

Lalu pemikiran saya melayang bagaimana seorang Agus Salim yang sangat fasih sembilan bahasa menantang Volkaard, Dewan Kerajaan Belanda dengan cara menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia dimana Volkaard meganggap Bahasa Indonesia/bahasa melayu adalah bahasa yang tabu di forum itu. Sebelumnya beliau juga telah merintis sekolah dan menjadi guru di tanah kelahirannya.  Beberarapa negarawan negeri inipun seperti Hatta, Muhammad Roem, Kasman Singodimejo tidak ragu-ragu untuk menyebutnya sebagai mentor, guru, dan penasehat. Tidak salah apabila beliau di juluki The Grand Old Man. Diplomat ulung yang sangat ditakuti Belanda pada masa itu juga telah mencicpi rasanya menjadi seorang guru dan terus menjadi seorang pendidik.

Tulisan ini adalah bentuk apresiasi saya kepada relawan Kelas Inspirasi Yogyakarta yang telah mendaftar. Mengesampingkan semua kemungkinan motif yang dibawa para relawan dalam proses pendaftaran Kelas Inspirasi Yogyakarta. Bahwa para pendiri negeri ini adalah pengajar dan pendidik yang tidak memiliki keraguan akan pentingnya pendidikan. Saya meyakini KIY ini akan menjadi kesempatan untuk menciptakan kebaikan pada semua yang terlibat didalamnya.

 

Budyanung Anindita

 

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta 2015 (menurut saya)

Kelas Inspirasi Yogyakarta, adalah suatu gerakan dibawah Indonesia Mengajar yang intinya adalah mengajak para profesional yang sudah memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun untuk kembali ke SD dan mengenalkan profesinya kepada anak anak SD tersebut. Pada tahun ini Kelas Inspirasi Yogyakarta dilaksanakan pada 16 Maret 2015, menyasar ke 25 SD di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta melibatkan sekitar 350 relawan baik pengajar ataupun dokumentator. Tidak ada imbalan apapun dalam kegiatan ini, semua terlaksana karena kemauan tiap relawan sendiri.

 

Ini pengalaman kedua kali saya mengikuti Kelas Inspirasi, yang pertama adalah tahun lalu menjadi relawan fotografer dan tahun ini alhamdulillah menjadi koordinator fasilitator. Saya lumayan terkejut karena beban kerjanya lumayan banyak. Persiapan yang dilakukan mungkin dimulai sejak H-4 bulan, dari pencarian panitia, rapat setiap hari Jumat, penentuan SD, survei, seleksi relawan. dsb.
Awalnya agak takut karena saya masih awam soal Kelas Inspirasi, banyak yang lebih senior, banyak yang lebih cakap, tapi kenapa saya yang dipilih?
Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari Kelas Inspirasi Yogyakarta tahun ini karena saya merasa ikatannya lebih kuat saja, energi positifnya terasa. Ya tidak sempurna memang, tapi menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang keren dari multidisiplin yang masih peduli dengan pendidikan Indonesia dan mau menyisihkan waktunya untuk mempersiapkan kegiatan ini. Memang masih ada kekurangan disana-sini terkait pelaksanaan KI Yogya tahun ini, tapi itu merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kami Panitia KI.
Terimakasih banyak.

 

Menurut saya, sudah suatu kewajiban atau tanggung jawab orang yang lebih tua untuk menjadi katalis bagi generasi yang lebih muda. Sudah tugas kita menuntun, memberikan dorongan, semangat, dan contoh untuk mereka agar mereka bisa melompat lebih tinggi dari kita. Indonesia sudah diuntungkan dengan bonus demografi, semoga kita bisa memanfaatkan momentum ini agar bangsa Indonesia bisa benar benar memimpin dunia. Saya yakin Indonesia tidak kurang orang pintar, tidak kurang sumber daya, tetapi mungkin kekurangannya adalah kurangnya orang baik yang turun langsung, memberikan contoh, mengawal pendidikan, kita mungkin terlalu acuh, mungkin.
Untuk menutup tulisan ini saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat, para relawan, panitia, pihak media, sekolah, dan pihak yang lain yang mendukung kegiatan ini. Mari turun tangan langsung, mari berkontribusi untuk pendidikan yang lebih baik, mari menjadi busur untuk anak-anak Indonesia yang ingin melesat tinggi meraih mimpinya. Sampai ketemu di Kelas Inspirasi di kota-kota lainnya.
Tanah Air
Ciptaan : Ibu Soed
Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
 .
 .

By KI Yogya

Survey Lokasi Kelas Inspirasi

Sabtu (7/3/15), Kelompok Kelas Inspirasi SDN Dengok I Playen Gunung Kidul melakukan survey lokasi kegiatan Kelas Inspirasi (KI). Iring-iringan kendaran bermotor relawan KI tiba di SDN Dengok I sekitar jam 09.00 wib dan langsung disambut oleh Ibu Rini, selaku Kepala sekolah. Kekurangan kursi di ruang Kasek, salah seorang guru mengambilkan bangku panjang dari ruang sebelah. Setelah melakukan berbagai survey (wawancara singkat dengan Ibu Kasek), para relawan lalu melakukan survey lingkungan, kelas dan fasilitas sekolah. Kebetulan saatnya jam istirahat. Apet dan Gilank bisa ikut main bola bersama anak-anak, yang lain nampak berkomunikasi dengan guru, bercengkerama dengan para siswa dll. Atau bahkan ada yang ikut menikmati cilok yang dijual di sekolah tersebut.

Setelah observasi, para relawan KI melanjutkan kegiatan pembahasan detail pelaksanaan Kelas Inpirasi. Pembahasan ini dilakukan di area air terjun Sri Gethuk yang berada sekitar 8 Km dari SDN Dengok I Playen. Jalan menuju lokasi sangat lancar. Setelah membayar biaya masuk, team relawan selanjutnya beristirahat sejenak di kompleks Goa Rancang Kencana, seperti Mas Cahya yang memanfaatkannya untuk menikmati mie rebusnya. Selanjutnya team coba menguak misteri Goa Rancang Kencana. Satu persatu team masuk dan mendapat penjelasan dari pemandu di dalam goa tersebut.

Usai dari Goa Rancang Kencana, team selanjutnya menuju air terjun Sri Gethuk. Jalan menuju ke lokasi nelum di hotmix, jalanan disusun dari batu-batu kasar yang harus hati-hati untuk melewatinya. Disebuah dangau di pinggir sawah, team lalu membahas detail kegiatan KI tanggal 16 Maret 2015. Atas arahan dari dua fasilitator (Mb Devy dan Mas Miko) serta keuletan Mb Risha (Koordinator relawan), akhirnya detail kegiatan bisa dituntaskan. Termasuk pembagian tugasnya. (Yang spanduk, yang balon, yang proyektor, yang buka acara, yang nutup acara, yang motret, yang video yang cadangan motret juga ada…).

Setelah sholat Dzuhur, selanjutnya team menyusuri kali Sri Gethuk untuk sampai ke air terjun Sri gethuk. Setelah turun lalu noleh kanan, langsung berhadapan dengan air terjun. Di depan air terjun ada sungai yang sangat dalam (5M dan karena alirannya sangat deras, diseberang sana ada tulisan agar masuk sungai dengan pelampung). Air terjun Sri Gethuk sendiri sangat bagus, bagi yang ingin mengambil gambar, sebaiknya hati-hati karena salah mundur maka akan cemplung ke dalam sungai. Maka lensa wide menjadi solusi (Ups, mungkin juga perlu filter ND, itupun gak bisa lebih dari 10 detik, bila lebih over exposure)

 

Sumber: https://dreamfile.wordpress.com/2015/03/08/survey-lokasi-kelas-inspirasi/

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta #3

Kelas Inspirasi. Ya, istilah untuk kegiatan sehari mengajar di Sekolah Dasar (SD) ini sudahberlangsung lebih 3 tahun. Dari awalnya disuatu daerah di Kalimantan menjadi gerakan yang menasional di Indonesia. Kelas Inspirasi dilakukan oleh para relawan yang merupakan para profesional yang benar-benar rela dan tulush berbagi untuk membangun mimpi anak Indonesia, spirit dan wawasan lebih awal kepada para murid SD akan profesi yang bisa mereka pilih di masa depan. Karena, menurut  salah seorang relawan yang telah beberapa kali ikut kelas inspirasi, Ibu Laily Prihatiningtyas, Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, yang juga hadir memberikan briefing Kelas Inspirasi Yogya#3 di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta (1/3/15), bahwa anak-anak cenderung hanya memiliki cita-cita yang sederhana, menjadi apa yang saat itu mereka tau atau sedang menjadi trend. “Misal menjadi pemain bola, karena saat itu lagi ngetrend tentang sepak bola. Begitupun saat ditanya akan membuka usaha apa, ya usaha pabrik bola sepak, sepatu bola”, ujar Laily.  Menurut Laily, kelas inspirasi bukan hanya menginspirasi anak-anak, tapi kita sendiri sebagai pengajar akan terinsprasi oleh kegiatan ini. Bukan hanya mengajar tapi juga bukti nyata kepedulian para profesional anak pendidikan anak bangsa dan masa depan generasi bangsa. Menuju Indonesia Gemilang, Menuju Indonesia Emas, Menuju Indonesia sejahtera. Bagi seluruh rakyatnya. Dari Sabang sampai Merauke, dari kota hingga pelosok desa.

Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia”

Aku tau kelas inspirasi ini dari pesan gambar di grup whatsapp, aku mendaftar atas saran dan petunjuk salah seorang alumni Indonesia mengajar yang pernah bertugas di daerah pedalaman daerahku. (Hebat dia, masa muda nya setahun dihabiskan di pelosok daerahku, yang tentu saat itu pasti menghadapi banyak kendala bahkan untuk berkomunikasi dengan keluarganya. tapi dia rela dan tulus berbagi pengabdian disana. Terima kasih Mb Marlita). Sebenarnya aku sudah lupa apa yang kutulis dalam essay satu demi satu kenapa mau ikut kelas inspirasi dalam formulir pendaftaran online tersebut. Aku hanya berpikir, mungkin apa yang telah kulalui dapat memberi manfaat (inspirasi) buat anak-anak. Yang pasti, aku mau ikut memberikan inspirasi buat anak-anak yang mungkin seperti keadaanku dulu. Tumbuh dan besar bersama alam, hanya tau cita-cita menjadi guru, polisi dan pak camat. Saat itu, motivasi hanya dibangkitkan diri sendiri. Yang kuingat suatu saat aku berkata, aku akan jadi itu. Dua puluh tahun kemudian apa yang diucapkan itu menjadi kenyataan.

Aku ingin bercerita tentang kalau kita punya impian maka  kita akan punya kesempatan untuk mewujudkannya. Dengan cara apapun, Tuhan yang maha tahu, Tuhan yang memiliki skenario. Bagaimanapun alur ceritanya, pada akhirnya kita akan dapatkan apa yang pernah kita impikan, kita akan miliki apa yang kita inginkan dan kita akan jangkau apa yag pernah kita katakan. Tinggal kitanya mau atau mau banget mewujudkannya. Aku juga ingin berkata kepada mereka, punyailah cita-cita yang tinggi, punyailah keinginan yang bagus. Bangunlah impianmu sejak awal. Dalam hidupmu, katakanlah yang kamu sukai saja. Darimanapun kamu berasal, jika kamu punya impian,  menjadi apa saja, kamu akan punya kesempatan untuk mewujudkannya. Pun saya berdiri disini, karena saya pernah mengatakannya : Saya ingin suatu saat bisa berbagi cerita dengan anak-anak yang mungkin mengalami kehidupan seperti saya.

“Tidak dibayar, bukan karena tidak bernilai tapi karena tidak ternilai”

Dari deretan nama-nama yang lolos kelas inspirasi Yogya#3, kulihat mereka adalah orang-orang hebat, para profesional dibidangnya masng-masing. Mereka semua pasti mengorbankan satu hari berharganya untuk membangun inspirasi anak-anak bangsa. Mereka rela datang ikut briefing meninggalkan golden time nya dihari minggu, mereka rela menyebar ke berbagai sekolah yang ada di semua Kabupaten/Kota di DIY. Dari acara briefing ini juga, aku jadi tau kalau beberapa relawan telah ikut kegiatan ini bahkan lintas pulau (bukan hanya dalam satu Proponsi/Kota/Pulau). Semua dilakukan dengan sukarela, biaya sendiri, penuh ketulusan dan keikhlasan, semangat berbagi inspirasi, berguna bagi orang lain (anak-anak).  Untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak agar memiliki impian. Termasuk panitia yang mengorganisir acara, semua melakukan dengan tanpa dibayar. Snack yang dimakan saat acara briefing adalah hasil “kotak amal” acara serupa sebelumnya. Itulah keikhlasan mereka, inilah kontribusi mereka.

“Think big, start small, act now”

Aku mendapatkan SDN Dengok I Playen. Sekolah ini berada di Gunung Kidul. Lumayan jauh dari Kota Yogya. Apalagi mendengar cerita Kepala sekolahnya, sekolah tersebut hanya 68 siswa dari kelas I-VI, jadi masing-masing kelas sekitar 9-12 orang. Orang tua mereka kebanyakan adalah petani. SD ini berada di sekitar perkampungan penduduk dan kebun/hutan jati. Ingatanku langsung melayang pada film Laskar Pelangi. Sekolah yang kelasnya hanya diisi 10 orang siswa. Sekolah yang harus dibangun dan dijaga impian para siswa-siswinya.

Setelah mengikuti briefing, penjelasan awal tentang kelas inspirasi, aku semakin antusias dengan kegiatan ini. Aku bersama dengan 13 orang teman yang lain dari berbagai macam profesi. Meraka rata-rata masih muda. Mereka masih sangat semangat dan energik. Ada yang dosen, bidan, owner, investment analys, bahkan ada yang sengaja datang dari Jakarta hanya untuk ikut kegiatan kelas inspirasi ini. Ada dua fotografer dan seorang videografer di tim kami.

Meskipun kami bukan sosok BJ. Habibi atau Anies Baswedan atau juga Anwar “Lima Menara” Fuady, bukan pula sosok Laily Prihatiningtyas, namun kami tetep berharap cerita tentang profesi kami, sehari bersama mereka akan membuka inspirasi bagi mereka, akan menjadi setitik cahaya bagi mereka, yang akan terus membesar bahkan menjadi matahari bagi lingkungannya. Dalam benak kami, tidak ada yang tidak mungkin jika mereka telah memiliki impian.  Menjadi sosok baru seperti BJ Habibi, Anis Baswedan atau Laily Prihatiningtyas pun bisa mereka raih, menjadi seperti profesi kami pun bisa mereka dapatkan. Asal mereka punya mimpi, punya impian.

Besok, sabtu (7/3/15) kami akan datang melakukan survey awal lokasi dan keadaan sekolah. Kami berharap dapat memperoleh gambaran mengenai sekolah yang akan menjadi lokasi. Kami berharap bisa memberikan kontribusi bagi anak-anak SDN Dengok I Playen Gunung Kidul.  Yeah, dengan senyum dan semangat,  dengan secuil kontribusi ini, bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak sana mewujudkan impiannya. SDN Dengok I, Kami akan datang !

Sumber: https://dreamfile.wordpress.com/2015/03/03/kelas-inspirasi-yogya3/

1 2
Kelas Inspirasi Yogyakarta 2015 (menurut saya)
Survey Lokasi Kelas Inspirasi
Kelas Inspirasi Yogyakarta #3