KI YogyaKI Yogya

Category : KIY Writing Challenge

Secara berkala, Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY) mengadakan pengumpulan ide dan opini mengenai topik tertentu yang tertuang dalam bentuk tulisan.

Beberapa topik yang telah dikumpulkan di antaranya:

By Publikasi KIY

Catatan Relawan

Siapa yang tak kenal Gianluigi Buffon, salah satu kiper terbaik di dunia dengan begitu banyak gelar juara baik di level klub maupun negara. Di usianya yang sudah 39 tahun, Buffon tetap dipercaya sebagai penjaga gawang Juventus maupun timnas Italia, bahkan dia dipercaya sebagai kapten. Usia seolah tak menghalanginya untuk tetap berprestasi dan bermain dengan performa layaknya pemain muda, sungguh sosok pemain yang sangat menginspirasi.

Bicara tentang inspirasi, 3 bulan yang lalu saya mendapat kesempatan yang tak terlupakan yaitu menjadi relawan dokumentator Kelas Inspirasi (KI), sebuah kegiatan sosial yang bertujuan mengenalkan bermacam profesi kepada anak-anak usia sekolah dasar. SD Negeri V Gedong, Ngadirojo, Wonogiri adalah lokasi untuk KI pertama saya, sengaja saya sebut pertama karena setelah mengikuti Kelas Inspirasi Wonogiri (KIW) tersebut timbulah keinginan untuk ikut KI selanjutnya di kota lain.

Di KIW inilah saya bertemu dengan sosok Buffon dalam dunia pendidikan, seorang inspirator dari kota Yogyakarta yang berprofesi sebagai reporter stasiun televisi swasta. Layaknya sang kiper legendaris yang menjadi panutan rekan-rekannya di dalam dan luar lapangan, Bapak tiga orang anak ini juga menjadi kapten untuk para relawan Kelas Inspirasi yang saya ikuti. Senyum cerianya yang khas dan sikapnya yang ramah mampu merangkul kami yang tak saling mengenal untuk dapat akrab dengan cepat.

Anang Rahardiansyah demikian nama lengkapnya, di usia yang hampir kepala empat dia masih tetap aktif berbagi ilmu dan pengalaman lewat Kelas Inspirasi. Seperti Buffon yang menjadi panutan untuk banyak kiper muda lewat penampilannya di atas lapangan, Om Anang -panggilan akrabnya- dengan semangatnya mampu memberi suntikan energi untuk para relawan yang umumnya masih mahasiswa. Kegigihannya terlibat dalam Kelas Inspirasi walau sudah tak muda lagi ternyata menjadi motivasi generasi muda di bawahnya untuk ikut dalam kegiatan serupa, termasuk saya salah satunya.

Dan secara kebetulan, Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY), di mana Om Anang terlibat sebagai salah satu panitia lokalnya, adalah Kelas Inspirasi kedua yang saya ikuti. Mendapat informasi darinya tentang KIY yang membuka pendaftaran relawan, saya kemudian mendaftar online sebagai dokumentator foto.

Mengamati kegiatan para panitia local KIY di Instagram semakin menambah kekaguman saya pada om Anang. Bagaimana tidak, di tengah segala kesibukannya sebagai ayah (salah satu anaknya masih berusia setahun kurang) dan reporter berita, dia masih mau terjun langsung menjadi pengurus, membantu segala persiapan demi kelancaran Kelas Inspirasi Yogyakarta yang ke 5 ini.

Apabila Gianluigi Buffon dengan penyelamatan-penyelamatan gemilangnya mampu memberikan rasa aman bagi lini pertahanan tim yang dibelanya, Anang Rahardiansyah dengan segala pengalaman dan keramahannya mampu memberikan rasa tenang bagi rekan-rekan muda di sekelilingnya. Bukan menempatkan diri sebagai senior, lebih dari itu dia mampu menjadi mentor sekaligus sahabat.

Tak sabar rasanya untuk segera datang ke Jogja dan menunggu hari inspirasi di Sabtu nanti, juga kesempatan untuk bertemu lagi dengan Om Anang dan berbagi keceriaan bersama adik-adik di SD Negeri Pringtali tempat saya kebagian jatah mengabadikan kegiatan Kelas Inspirasi Yogyakarta. Sebuah kesempatan langka, moment berharga untuk berinteraksi dan belajar dari dan untuk anak-anak.

Akhir kata, Buffon dengan segala prestasinya akan tetap dikenang sebagai legenda Italia dan sepakbola, Kelas Inspirasi dengan semangat berbaginya juga akan diingat anak-anak negeri ini, kini dan nanti.

Mari terinspirasi untuk menginspirasi!

 

Bagus AS

0857 2525 3232 | @_mustbe

By Publikasi KIY

Kelas Inspirasi dan Hal-hal yang Menggugah Hati

Saat saya kelas 2 SD, cita-cita saya adalah menjadi astronot. Kata astronot saya kenal pertama kali saat saya mulai membaca sebuah majalah anak-anak berbasis nasional. Di tahun yang sama, cita-cita saya bergeser menjadi Menteri Sekretaris Negara (saat itu, tahun 1998, seingat saya namanya Mensesneg, entah singkatan dari apa). Kata bapak saya, mensesneg adalah ketuanya para menteri, gajinya hanya kalah oleh presiden.

Kelas tiga-empat SD, cita-cita saya berubah menjadi anchor (istilah ini saya ketahui pula dari majalah). Ini gara-gara saya melihat Arief Suditomo menandatangani kertas yang dia pegang saat membaca berita dan, lagi-lagi, kata bapak saya si Arief akan mendapat uang setelah dia keluar dari ruang siaran.

Kelas 5-6 SD, cita-cita saya bukan lagi menjadi anchor tetapi menjadi wartawan lapangan. Ini karena saya merasa anchor tidak menantang, dan akan lebih keren bagi saya untuk live report dari tempat kejadian secara langsung.

Masa-masa sekolah dasar adalah masa saat saya menyerap banyak sekali informasi. Seringkali, informasi tersebut bisa jadi motivasi paling besar dalam hidup. CIta-cita sebagai wartawan saya simpan hingga saya lulus SMA, dan membuat saya memilih jurusan kuliah yang berbau wartawan. Meski saat ini profesi saya berbeda, dan saya tidak lagi berminat menjadi wartawan, saya sadar bahwa pengetahuan itulah yang membawa saya pada titik saat ini.

Di sisi lain, setelah mengamati beberapa teman, saya menemukan bahwa mereka yang saat ini saya anggap sukses (mampu mengekspresikan dirinya dan memiliki profesi yang mereka inginkan) tidak semuanya adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam kecukupan. Seringkali masa kecil mereka terbatas. Tapi mereka memiliki niat yang kuat, didorong oleh motivasi yang mereka dapat entah dari cerita orangtua ataupun melihat orang lain.

Berkaca pada beberapa hal di atas, saya menyimpulkan bahwa cerita adalah media motivasi yang efektif untk anak usia sekolah dasar. Ceritakan pada mereka sesuatu yang baik, maka mereka akan jadi hebat. Ceritakan pada mereka sesuatu yang hebat, mereka akan jadi luar biasa.

Dulu, saya tahu mengenai beragam profesi hanya dari majalah, televisi, dan ayah saya. Sekalipun saya tahu, tetap saja terasa ada jarak yang memisah. Saya ingin jadi astronot, saya tidak pernah bertemu astronot. Saya ingin jadi anchor, saya tidak pernah bertatap muka langsung dengan anchor. Saya ingin jadi wartawan, saya tidak pernah bersua dengan wartawan. Namun, impian itu nyatanya tetap kekal.

Hal tersebutlah yang mendorong saya untuk ambil bagian dalam Kelas Inspirasi. Bagi saya, hadirnya orang-orang dengan beragam profesi akan meluaskan pandangan anak-anak mengenai pekerjaan-pekerjaan di luar yang telah mereka ketahui. Sesudahnya, mereka jadi memiliki banyak sekali pilihan seandainya sejalan dengan waktu mereka tak bisa menggapai apa yang tadinya mereka mau.

***

Ini kedua kalinya saya bergabung dengan Kelas Inspirasi Yogyakarta. Secara keseluruhan, ini adalah tahun kedua, kota kelima saat tulisan ini dibuat, dan akan segera jadi enam kota sekira dua minggu lagi. Bergabung dengan KI berarti bertemu teman baru, membangun jaringan baru, dan mendapat ilmu baru. Ilmu yang didapat bukan hanya dari sesama relawan tetapi juga melalui perantara anak-anak di sekolah-sekolah yang saya kunjungi. Sesekali, perjalanan ke sekolah-sekolah tersebut membuat mata saya terbuka akan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan (meski saya baru menjelajah area Jawa bagian tengah saja).

Lewat Kelas Inspirasi, saya disadarkan pada beberapa hal:

  1. Sekolah negeri di DIY, sepelosok apapun, memiliki bangunan yang layak. Saya tidak punya cukup data untuk memberikan penjelasan mengapa layak. Tapi buat saya, kelayakan bangunan adalah hal baik dalam menunjang pendidikan.
  1. Bangunan SD yang layak bukan jaminan sekolah tersebut memadai

Maksud saya adalah seringkali sekolah, terutama di pedesaaan, tidak mengakomodasi kebutuhan siswa.

Sekolah pertama yang saya kunjungi di KI adalah sekolah di pelosok Gunungkidul. Meski sekolah tersebut layak, terdapat beberapa anak berkebutuhan khusus (ABK) yang tak tertangani dengan ideal. Sang guru tahu bahwa mereka ABK, namun sekolah untuk ABK cukup jauh dari desa padahal orangtua anak-anak tersebut kurang mampu. Akhirnya, guru terpaksa memberikan treatment yang sama kepada para ABK terssebut. Ini tentu menjadi masalah tersendiri.

  1. Anak usia sekolah dasar memiliki cta-cita sejalan dengan kondisi lingkungan

Jadi dokter, polisi, tentara, itu sudah biasa. Tapi jadi pembantu, jadi sopir truk, jadi TKI, adalah “impian” anak-anak yang membuat saya trenyuh. Bukan salah mereka jika mereka bermimpi demikian. Orang dewasa lah yang berperan dalam memberikan pengaruh buat mereka. Hadirnya profesional di sekolah, saya rasa mampu meluaskan pengetahuan anak-anak mengenai pekerjaan.

  1. Infrastruktur adalah hal yang penting

Ada sekolah, sekolahnya bagus, muridnya banyk, gurunya lengkap, perpustakaan memadai, tapi akses menuju sekolah tidak baik? Sama saja.

Aksesibilitas adalah hal yang juga kadang masih menjadi problem utamanya di wilayah pedesaan dengan topografi “menegangkan”. Pada KIY #4, saya ditempatkan di Gunungkidul. Jalannya aspal, tapi naik turun. Saya jadi membayangkan bagaimana jika kondisinya lebih buruk, mungkinkah anak-anak tetap bersemangat sekolah?

Saat ini, daftar tersebut berhenti sampai pada titik tersebut. Namun saya yakin, seiring dengan keikutsertaan saya di Kelas Inspirasi, saya akan menemukan lagi hal-hal yang menggugah hati dan meyakinkan saya bahwa kegiatan ini sangatlah bermakna.

 

Dhina Rohmawati

relawan dokumentator KIY #4 dan KIY #5

0821 3365 9930 | @rhmdhina

By Publikasi KIY

Membangun Generasi Indonesia yang tangguh berbasis  relawan

Jika kerelawanan dalam program Kelas Inspirasi Yogyakarta #5  boleh diuangkan, kira-kira berapa rupiah  jumlahnya?  Dugaan saya pasti besar.

Kurang lebih  pada pertengahan  November 2016, saya menemukan informasi melakukan kerja kerelawanan melalui program Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY). Saya tidak ingat persis, apakah saya menemukannya di instagram atau di twitter terkait rekruitmen relawan KIY, yang jelas sesaat setelah menerima informasi itu saya mencari berbagai dokumentasi kegiatan KIY dan kesimpulan saya,  Kegiatan ini Menarik !

Singkat cerita proses mengisi formulir pendaftaran relawan segera saya lakukan. Hampir dua puluh menit saya habiskan di depan layar telpon seluluer untuk mengisi detail pertanyaan, hingga  di awal tahun 2017, ada surat elektronik dari panitia KIY memberitahukan bahwa saya diterima menjadi relawan pengajar.  Petualangan dimulai.

Dunia kerelawanan sendiri sebenarnya tidaklah asing, keterlibatan di lembaga tempat saya bekerja juga bermula dari kegiatan relawan. Jika kita melakukan flash back, semangat kerelawanan sendiri sebenarnya  sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Gotong royong membangun sarana publik di desa adalah salah satu contohnya. Bagi sebagian besar masyarakat, kerelawanan itu ibarat ungkapan Thomas Hobbes dalam karyanya berjudul De Cive (1651), Homo Homini Socius  – Manusia adalah kawan bagi sesama.

Proses KIY diawali dengan tehnical meeting pada tanggal 22 Januari 2017.  Ini  adalah awal mula bertemunya  berbagai pemangku kepentingan dalam program KIY. Mereka adalah perwakilan dari  Dinas Pendidikan, Perwakilan Sekolah, Fasilitator dan Relawan pengajar dan dokumentator. Proses TM menurut saya sejujurnya terlalu singkat waktunya,  meskipun demikian banyak hal yang bisa saya peroleh. Informasi itu adalah sharing session dari para pengajar, simulasi panduan mengajar,dan pertemuan dengan para relawan dalam satu tim. Saya sempat heran, karena relawan satu tim tidak semua hadir dalam tehnical meeting ini, belakangan saya baru mengetahui,  banyak dari mereka yang  tidak berdomisili di Yogyakarta, tetapi mereka datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Terkejut sekaligus kagum, saya sampaikan kepada rekan-rekan relawan satu tim saya. Solidaritas dan semangat berbagi mereka sungguh luar biasa.

Komunikasi untuk saling memperkenalkan diri, bertukar informasi mengenai aktivitas yang dilakukan dan mengatur berbagai agenda kegiatan dijalin melalui grup whatsapps (WA). Proses koordinasi  dengan cara seperti ini cukup menantang, selain tidak semua anggota tim dapat merespon pada saat bersamaan, waktu untuk bertemu langsung juga sangat terbatas. Namun keterbatasan komunikasi ini tampaknya sudah disadari betul oleh anggota tim, sehingga setiap ada permintaan bantuan, pertanyaan ataupun sekedar klarifikasi  tentang berbagai hal, para relawan  tidak segan saling memberikan dukungan.  Misalnya cerita  salah seorang relawan yang berniat kuat menjadi relawan kelas inspirasi.  Ia terpaksa harus menunda keinginannya karena dokter kandungan tidak mengijinkannya. Cerita lain adalah relawan tim yang hingga tulisan ini dibuat sedang berupaya keras mendapatkan ijin cuti dari atasannya. Cerita lainnya upaya menuju kota  Yogyakarta, relawan dari luar kota harus mencari angkutan umum, sementara anggota tim relawan yang lain menyediakan rumah dan kendaraan  untuk mobilisasi ke lokasi. Ikatan yang terbangun dengan tulus  ini patut dibanggakan

Saat mengadakan survei,  dua teman fasilitator mendampingi relawan untuk bersepada motor bersama menuju lokasi sejauh kurang lebih 40 kilometer arah barat kota Yogyakarta. Survei lokasi ini membuat kami mengetahui gambaran akses ke lokasi dan fasilitas yang tersedia di sekolah. Kami relawan sempat merasakan uji coba mengajar di kelas,  Guru kelas pun dengan terbuka  memberikan kesempatan  kepada kami untuk menjajal kemampuan mengajar.  Pengalaman saya pribadi setelah menikmati mengajar di depan kelas, baru merasakan pentingnya membuat rencana pengajaran (lesson plan). Menyampaikan pengetahuan kepada siswa kelas rendah membutuhkan metode  yang tepat agar dalam proses pembelajaran berhasil. Secanggih apapun ide yang akan disampaikan, jika tanpa persiapan pengajaran yang baik, hasilnya  tidak akan maksimal dalam menginspirasi siswa untuk menjadi lebih jujur, mandiri, pantang menyerah dan bekerja keras.

Peran penting relawan pengajar di hari inspirasi adalah mendorong  siswa mampu mencari berbagai alternatif solusi  yang digali dari potensi yang dimilikinya. Selain itu saya menggaris bawahi pentingnya dialog. Kemahiran untuk berdialog secara terbuka dengan siswa, akan memastikan mereka memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya  dan  mau terlibat untuk mengatasi persoalan. Hal lain yang tidak boleh ketinggalan adalah sikap relawan pengajar harus mau menumbuhkan rasa ingin tahu anak dan  merangsang terjadinya proses berfikir, supaya siswa menjadi lebih kritis.

Akhirnya, menjadi relawan KIY memberi kesempatan saya untuk mengenal beragam karakter siswa, mengenal lebih dalam profesi bapak ibu guru dan profesi rekan relawan dalam satu tim. Dalam jangka pendek  hadirnya kegiatan KIY mampu menginspirasi terjadi perubahan dari para pihak yang peduli kepada pendidikan, sementara dalam jangka panjang, inisiatif baik ini perlu dukungan dari para pihak karena perubahan sikap, perilaku dan kondisi tidaklah cukup diproses dalam satu hari.  Diakhir  saya mengutip Pablo Neruda- Hidup ini seperti roller coaster, pasang, surut, terkadang menukik tajam, silahkan anda pilih sendiri, mau menjerit histeris atau menikmati perjalanan yang penuh tantangan ini. Dan saya menikmati perjalanan membangun generasi tangguh bersama para relawan Kelas Inspirasi Yogyakarta

 

Edy Purwaka

Relawan Pengajar di SD Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kab.Kulon Progo

#5 KIY/ Kelompok 23

By Publikasi KIY

Persiapan Jelang KIY #5

Kelas Inspirasi (KI), berulang kali aku mendengar tentangnya dari teman-teman, hasil selancar di dunia maya melaluiYouTubemaupun laman lainnya.Nice! Menarik, satu kata yang ada di benakku saat itu. Aku lupa kapan pertama kali mendengar tentang Kelas Inspirasi ini, mungkin tahun 2014. Akhirnya 2016 aku mendaftar Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY), tetapi karena ada tugas kantor harus ke luar kota, maka lagi-lagi aku batal mengikutinya. Nah, tahun 2017 ini aku mantapkan diri untuk mendaftar KIY #5, serta berharap dengan sangat, tidak ada tugas dadakan dari kantor lagi.

Hingga kemudian 10 Januari 2017 aku menerima email dari panitia, bahwa aku tercatat sebagai salah satu relawan pengajar KIY, dengan agenda Technical Meeting 22 Januari 2017 dan dilanjutkan Hari Inspirasinya Sabtu, 4 Februari 2017 serta Hari Refleskinya 5 Februari 2017.

Waaah, aku sangatexciting! Ibarat seseorang yang menunggu berjumpa dengan kekasihnya, itulah aku saat itu. *lebay.com J Tetapi, parahnya pada hari HTechnical Meeting aku malah datang terlambat, karena pagi hari lupa ada agenda ini. Tak mengapa, aku tetap mengusahakan datangTM,karena aku belum tahu apapun tentang persiapan KI ini.

Singkat cerita, berkumpulah aku dengan beberapa orang anggota kelompok 1. Kita kebagian di SD Negeri Jali, Kec Prambanan, Kab Sleman. Sekolah ini berada di ujung timur DI Yogyakarta. Dan para relawan yang hadir kala TM ini hanya 5 orang dari 14 orang yang seharusnya. Kelompok ini ada 2 fasilitator cantik J. Dan akhirnya kita menobatkan seorang relawan dari Demak, mas Widi, menjadi koordinator kita. Hanya itu target capaian hari tersebut, selanjutnya kita sepakati untuk membahasnya di Whatsapp Group (WAG).

Selanjutnya, lagi-lagi aku terkagum-kagum dengan kelompok 1 ini, kalau anak muda bilanggercepalias gerak cepat, hehehe. Gimana gak, kita bikin WAG langsung sorenya, kemudian segala perkenalan, lanjut diskusi segala hal yang harus kita harus siapkan. Dan bersyukurnya lagi, sebagian besar dari anggota kelompok bahkan sudah pernah mengikuti Kelas Inspirasi sebelumnya, entah di Yogyakarta maupun di kota lainnya. Kata abege sekarang,amazing!

Pengalaman teman-teman luar biasa, dan mereka dengan ringan berbagi banyak hal, terutama buat aku yang baru pertama kali ini mengikuti KIY.  Mulai dari survey, membahasbackdrop,rencanaopening, closing,jadwal masing-masing relawan masuk kelas, dan sebagainya, semua kita bahas di WAG ini.  Dan mungkin inilah group yang gak ada matinya, soalnya chat bahkan masih berlangsung hingga pukul 02.15 dini hari, dasar anggotanya kalong semua!

Jujur saja aku deg-degan, apa ya yang bisa kuceritakan tentang profesiku?  Bisakah aku menginspirasi siswa SD N Jali tersebut?  Gimana kalau aku malah mati gaya di depan kelas? Tapi menonton beberapa video melalui YouTube membuatku jadi lebih optimis, aku bisa melakukannya.

Sekarang masih ada 5 hari lagi jelang Hari Inspirasi, semoga semuanya lancar, diberi kesehatan, dan dapat berjumpa di SD N Jali. Tebak, aku akan berbagi cerita apa tentang profesiku di sana?  Yang jelas, pasti terkait dengan hutan, rimbawan, flora fauna.  Tunggu aku saja setelah Hari Inspirasi, aku akan menuliskannya lagi.

titinsept

30- 01-2017

By KI Yogya

Technical Meeting Luar Biasa

Persiapan ini dimulai sejak Oktober 2016, meski ini adalah komunitas relawan, tapi semuanya dikerjakan secara profesional. Dimulai dari perekrutan relawan panitia KIY ke-5 blusukan survei SD di daerah perbatasan DIY, perekrutan relawan pengajar dan dokumentator, hingga Technical Meeting hari ini. Masih ada tiga agenda besar lagi untuk KIY 2017, yaitu Hari Inspirasi, Hari Refleksi dan Pekan Inspirasi Yogyakarta.

Technical meeting dimulai pukul 08.00, tapi panitia sudah bersiap di lokasi sejak pukul 06.00 WIB. Persiapan yang luar biasa, dimulai dari beberapa minggu sebelumnya. Mulai dari dekorasi ruangan, panitia, konsumsi, hingga penyambutan para tamu. Semua dikonsep sedemikian rupa untuk menyambut para relawan pengajar, dokumentator, pihak sekolah dan semua pihak yang terlibat agar menjadi berkesan.

Rangkaian acara technical meeting berjalan dengan lancar, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Jingle KIY, setelah itu Kelas Inspirasi Yogyakarta ke 5 resmi dibuka dengan ditandai pemukulan gong sebanyak lima kali oleh Dikpora Yogyakarta yang diwakili oleh Bapak Drs. Surti Raharyanto seksi TK/SD Dikpora DIY. Tidak hanya sambutan, rangkaian acara technical meeting juga berisi pengenalan tentang Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasi oleh Kak Asep Ismail, KIY 5 Tahun 2017 oleh Kak Fatimah Norpriardy dan Trik mengajar di dalam kelas oleh Kak Hilmi.

Selain itu, hal terpenting dari technical meeting ini adalah Forum Group Discussion (FGD) berdasarkan kelompok sekolahnya masing-masing. Sebanyak 253 relawan pengajar dan 106 relawan dokumentator dibagi menjadi 25 kelompok berdasarkan SD yang terpilih untuk pelaksanaan KIY 2017. FGD ini dijadikan wadah pertemuan pertama relawan pengajar, dokumentator, fasilitator dan pihak sekolah yang terlibat KIY 2017.

Kegiatan technical meeting hari ini ditutup dengan flashmob, doa dan foto bersama. Semoga Hari Inspirasi nanti mampu menembus batas sebagaimana mimpi tanpa batas yang menjadi tema KIY#5 2017.

 

Eka Hardiyanti

1 2 3 4