KI YogyaKI Yogya

Category : KIY Writing Challenge

Secara berkala, Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY) mengadakan pengumpulan ide dan opini mengenai topik tertentu yang tertuang dalam bentuk tulisan.

Beberapa topik yang telah dikumpulkan di antaranya:

By KI Yogya

Relawan, Selo, dan Makrab

Bukan pertama kalinya saya terjun ke dunia relawan. Bukan juga pertama kalinya saya masuk  dalam komunitas. Bahkan bukan juga pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi.

Dunia kerelawanan. Yap, dunia yang tidak pernah membuat saya lelah justru malah membuat saya lebih semangat. Walaupun banyak yang bilang kalau saya sibuk, tapi sebenarnya saya sok sibuk, karena sibuk bersama kalian itu namanya bukan sibuk, tapi “selo”. 

Kata “selo” bisa jadi kata pertama yang akan saya ingat tentang kalian. Dari segala kegiatan yang saya pernah ikuti kalian merupakan yang paling berbeda. Eh, bukan berbeda, tetapi sama dengan semboyan Jogja yaitu ISTIMEWA. Ya, kalian istimewa. 

Cuma kalian yang bisa bikin notifikasi HP saya dalam beberapa jam saja menjadi ratusan notifikasi. Cuma kalian yang berani bully saya habis-habisan. Dan cuma kalian yang membuat saya kagum dengan kegiatan selo nan luar biasa kalian. 

Terima kasih dan maaf bisa jadi kata-kata pembuka untuk mengungkapkan perasaan saya (ceileh)Terima kasih buat kalian semua khususnya buat Mbak Ajeng :*:*:*

Saya belajar banyak hal dari kalian, (karena terlalu banyak tidak bisa saya sebutkan satu per satu). Maaf karena saya belum bisa memberikan apa-apa (aku mah apa atuh). Anyway tadi Memi juga minta kesan-pesan ketika makrab. Kesannya, seperti makrab kebanyakan saya bisa lebih kenal dengan yang belum saya kenal dan saya lebih akrab dengan yang sudah saya kenal (yeeeey makrabnya sukses). Terima kasiiih. Pesannya: saya jangan disiram lagi, ya… (Maaf ini adalah curhatan gaje saya). Nulisnya di sela-sela pusing ngerjain tugas jadi tambah gaje.

 

Novella

By KI Yogya

KUDAPAN SARU

Eeeeiiittss, dilarang keras membayangkan yang tidak-tidak apalagi yang iya-iya. Kudapan saru maksudnya kumpul dengan panitia (di) Sabtu seru. Layaknya makanan kudapan yang rasanya enak, membuat orang yang memakannya tidak bosan. Begitu pula dengan Sabtu sore, dua hari yang lalu, walaupun telat datang, bukan cacian atau kata-kata sindiran yang keluar. Senyum. Iya senyum. Sambutan hangat yang ditujukan padaku dan teman-teman yang baru datang layaknya udara yang menghangatkan di saat badan kuyup kedinginan.

 

Bagiku, Sabtu sore waktu itu bukan hanya sekedar malam keakraban biasa yang tujuannya saling mengakrabkan satu sama lain antarpanitia. Aku menyebutnya sa(btu) s(er)u yang mengobati kerinduanku terhadap proses belajar menjadi manusia yang peka terhadap diri sendiri, orang lain, ataupun lingkungannya. Bahagia rasanya, satu atap bersama untuk belajar materi menjadi fasilitator, simulasi untuk TM (technical meeting), mendengarkan pendapat teman yang lain, juga saling mengevaluasi dan memberikan masukan. Tidak ada yang lebih pintar, semuanya sama rata.

 

Ketika senam pagi sampai sesi ice breaking, semua orang sangat luar biasa. Bahkan saat diberikan waktu 10 menit untuk membuat ice breaking secara mendadak. Banyak ide yang keluar dan itu luar biasa (pada saat yang bersamaan Seksi Acara sedang berembug serius di ruangan berbeda, mungkin sedang menyiapkan kejutan untuk kita). Dan benar, kejutan di hari Minggu dimana matahari sangat tidak bersahabat untuk melakukan outbond yang membuat berat badan saya berkurang 7 ons. Tetapi tak masalah, hanya ucapan terima kasih yang bisa terlontar kepada teman-teman yang telah merelakan waktunya untuk makrab di saat bisa bobok manis dan lucu di rumah.

 

Makrab ini sebenarnya bukan hanya tentang aku, kamu, dia, kalian, atau mereka. Ini adalah tentang kita yang berproses bersama. Saling belajar mengenal dan memahami satu sama lain. Ini bukan masalah siapa yang tumbang duluan atau berniat berhenti, karena seleksi alam itu pasti. Tetapi ini tentang keyakinan bahwa kita dibutuhkan dan bermakna.

 

Dan terakhir:

Jika di luar sana sedang hujan deras, coba lihatlah dan hitung setiap tetesan air yang jatuh. Banyak sekali bukan? Dan tahukah kalian, sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenal kalian di Kelas Inspirasi Yogyakarta 4 ini.

 

Terima kasih telah membuat bahagia.

 

Terima kasih sudah mau berproses bersama.

 

Siti Nur Hilmi

By KI Yogya

Makrab Hangat

 

 

Ada sebuah keluarga baru di hidupku. Keluarga baru dari Kelas Inspirasi Yogyakarta, bersama dengan kehangatan kasih sayangnya. Lengkap dengan tawa dan amarahnya, komplit dengan sejuta pelajarannya.

 

Malam itu jadi momen spesial kami, bersama sejak petang hingga siang. Ngobrol banyak hal tentang pengalaman dan pembelajaran. Dimulai dari Tim Acara yang selalu gercep (gerak cepat) mempersiapkan sesuatu, facilitator the big family di antara kami semua sampai-sampai sangat sulit untukku mengenal satu satu dari mereka, lanjut ke Tim Rekrutmen yang lagi tegang di masa open recruitment-nya, Tim Dokumentasi yang selalu setia mengabadikan momen berharga kami dalam sebuah bingkai foto, hingga Tim Publikasi tersayang yang terjaga kerempongan dan kekompakan dalam setiap event-event KIY, dan spesial buat Memi—sang ibu peri—yang selalu kelihatan kalem di setiap momen, Pak Wijang yang tetap terlihat semangat di antara anak-anak muda di sini, Mas Arif yang paling jeli mengevaluasi kami, Mbak Hilmi  yang sudah memberikan banyak ilmu secara cuma-cuma dengan suaranya yang tanpa microphone pun sudah terdengar sampai penjuru negeri, Mbak Diyan yang selalu sabar menunggu notulensi kami dan menuliskannya kembali, Bendahara dan Tim Merchandise yang kreatif dan jadi kepercayaan kami. Kita semua berkumpul bersama dalam hangatnya Makrab KIY 2016. Di sebuah rumah sederhana di dekat pantai dengan suasana yang penuh keakraban.

 

Pantai Parangkusumo dan Gumuk Pasir-nya menjadi saksi pengakraban kami kali ini. Yang semula aku sulit menghafal nama dari fasilitator atau bahkan aku lupa dengan wajahnya,  sekarang di pantai itu kami semua sudah saling mengenal dan semakin dekat dan hangat.  Teriknya matahari tak mampu mengalahkan ekspresi bahagia kami. Hmm, bagaimana tidak? Bayangkan seorang Kadit saja memakai daster layaknya emak-emak hendak ke pasar dan dengan kerendahan hatinya mengumpulkan sampah di pantai, hahaha.

 

Bahagia itu sederhana. Dengan hanya bersama Kelas Inspirasi Yogyakarta saja, saya bahagia.

 

 

Sotya Ajeng

By KI Yogya

Mengunduh Keteladanan dari Negarawan Berpendidikan

Mohammad Athar, mungkin tak pernah mengira bahwa di masa dewasanya akan menjadi salah satu sosok berpengaruh bagi sebuah bangsa.  Anak kecil yang lahir di Bukittinggi ini hidup dengan adat  Minang yang kental. Setelah menamatkan sekolah ELS (Europeesche Lagere School)  di Padang, petualangannya dalam rimba pengetahuan berlanjut di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan Prins Hendrik Handels School di Jakarta. Langkah penuh semangat dalam merengkuh pendidikan tinggi dilakoninya hingga ia masuk di salah satu kampus elit dunia di Handels Hogeschool atau Economische Hogeschool (sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam) Belanda.

Di Belanda, ia tak hanya belajar tentang pengetahuan umum semata. Kegiatan organisasi dijalani dan membawa namanya menjadi salah satu aktor penting dalam segala proses pembentukan negara merdeka bernama Indonesia.

Ia kemudian dikenal dengan nama Mohammad Hatta, seorang intelektual yang bersanding namanya dengan Ir. Soekarno di teks proklamasi Indonesia. Namanya tak berhenti sebagai wakil presiden semata. Ketika mengingat tentang jalan panjang kehidupan Bung Hatta, maka yang muncul adalah visualisasi tentang sosok yang memiliki disiplin tinggi, sangat teliti, mengerti tentang ihwal ekonomi, dan anti korupsi.

Saat bercerita tentang dinamika yang dialami Bung Hatta selama hidupnya, saya teringat pada sebuah catatan biografinya berjudul “Untuk Negeriku”. Dalam buku tiga jilid tersebut, diceritakan bahwa pada sebuah waktu saat beliau diasingkan di Boven Digul-Papua beliau membawa 16 peti berisi koleksi buku-bukunya. Rasa haus ilmu yang dimiliki Bung Hatta membuatnya tak rela mengisi waktunya dengan hal yang sia-sia. Buku menjadi alat bagi beliau untuk terus mendekat kepada ilmu, dan mendidik dirinya agar tetap taat terhadap nilai-nilai yang pernah dia pelajari saat bersekolah dulu.

Disiplin tinggi yang diterapkan Bung Hatta sangat terlihat saat beliau dipindah ke tempat pengasingan baru di Banda Neira. Bung Hatta berkisah bahwa aktivitas hariannya sangat tertata sejak bangun tidur, berjalan-jalan di sekitar kampung, membaca buku, tidur siang, makan, hingga aktivitas di waktu malam.

Sebagai sosok yang dibesarkan dalam keluarga saudagar, Bung Hatta sangat lekat dengan dunia perdagangan. Suatu ketika Bung Hatta pernah diajak oleh pamannya untuk negosiasi bisnis di Jepang. Segala proses diikutinya sesuai prosedur. Bung Hatta sangat detail mengurus angka-angka, bukan hanya mementingkan laba semata. Di sinilah Bung Hatta sebagai sosok penggema anti-korupsi mulai muncul. Maka tak heran saat negeri besar ini baru lahir, beliaulah yang menangani bermacam urusan administrasi—apalagi yang berkaitan dengan ekonomi. Dari pemikiran beliaulah, hadir konsepsi koperasi. Beliau pula yang menekankan bahwa Republik yang penuh kebhinekaan ini cenderung lebih tepat menerapkan sistem demokrasi.

Bagiku, Bung Hatta bukan hanya identik dengan proklamator. Hidup yang beliau jalani adalah salah satu benchmark bagi rakyat negeri ini. Beliau adalah tokoh yang menjadi bukti bahwa untuk memerangi racun korupsi di negeri ini salah satunya dengan pendidikan. Kalau pendidikan diurus dengan benar, mungkin saja angka korupsi bisa berkurang, bahkan menghilang. Atau, untuk menguras berbagai jenis katalog korupsi, salah satunya bisa melalui penataan pendidikan yang ideal.

Bung Hatta adalah wakil dari keberhasilan seorang intelektual yang mawas diri terhadap keilmuannya dan sosok yang penuh teladan ketika membahas anti korupsi. Sudah selayaknya pribadi-pribadi seperti beliau dihadirkan kembali pada berbagai sektor di bumi pertiwi.

 

Arif Lukman Hakim

By KI Yogya

Korupsi, di Lingkungan Kita yang Berpendidikan

Indonesia, negeri dengan seribu budaya ini bisa diandaikan sebagai rumah Atlantis yang telah tenggelam. Dari mata mancanegara, Indonesia terkenal akan alam, budaya, tata krama, dan sukunya.  Saya masih optimis dengan negara yang ada di kartu penduduk dan paspor yang saya miliki.  Prasangka baik saya mengatakan bahwa negara ini kaya akan alam dan  keberagaman budaya. Saya pun telah terdoktrinisasi oleh tata karma yang telah diturunkan orang tua, walaupun belum sepenuhnya tata karma itu diimplementasikan kehidupan yang telah dijalani.

Ambillah contoh yang umum terjadi, ketika saya bertemu dengan orang yang lebih dewasa, saya memanggil dengan mas atau mbak, salim atau berjabat tangan, mengucapkan salam dan seterusnya. Namun, realita yang terjadi, khususnya pejabat yang duduk manis dan telah membuat akar di kursinya di Gedung Senayan, mengalami suatu kebalikan. Tidak ada budaya yang manis dan baik di situ.  Ada, namun hanya sebuah minoritas. Budaya untuk malu mengakui hal yang salah tidak dilakukan, justru yang ada adalah budaya ‘tips pelicin’ untuk sebuah megaproyek. Padahal, mereka dihasilkan dari sebuah institusi yang seharusnya mencetak manusia yang semanusiawi mungkin.

Saya akan membicarakan perihal tentang  “Korupsi, di lingkungan kita yang berpendidikan.” Retorika jargon “sekolah lah yang tinggi, maka kamu akan menjadi orang hebat” yang sudah terdokumentasi secara pikiran mayoritas orangtua, perlu dibuat mindset baru. Sesungguhnya sekolah adalah untuk memanusiakan manusia, menikmati proses pendidikan, serta mengubah bahwa kritisisme bukanlah pernyataan negatif yang dilontarkan seseorang. Tidak dipungkiri, kita yang tinggal di bumi pertiwi ini telah tersusun oleh hirarki komunitas sosial yang bermayoritas. Realitanya, jika ada minoritas di dalam negeri ini, maka ia akan terkalahkan secara telak oleh mayoritas tersebut. Sama halnya dengan korupsi, tidak ada perubahan istilah yang lebih sederhana atau lembut dalam pengucapan untuk menggantikan istilah korupsi tersebut, layaknya kata ‘banci‘ diubah menjadi ‘transgender‘ atau ‘penyandang cacat‘ diubah menjadi ‘disabilitas‘. Korupsi, ya, korupsi. Tidak ada pembenaran makna dalam kata tersebut.

Seseorang yang melakukan korupsi sudah terbaca bahwa jahat, busuk, serta merusak dan merampas hak manusia lainnya. Ya! Sangat disayangkan bahwa mereka telah dihasilkan oleh universitas namun etika dan moral terbelakang. Tidak perlu mendaki-daki untuk melihat korupsi sampai ke ranah Gedung Senayan. Dari lingkungan sekitar pun, telah banyak ditemui korupsi  yaitu korupsi waktu, korupsi materi, korupsi omongan. Di kalangan mahasiswa pun banyak terjadi hal itu, seperti mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kemudian diperbesar jumlah dananya dan kemudian tidak ada keberlanjutannya.

Boleh saya katakan bahwa manusia bukan hanya seonggok daging yang pada akhirnya hanya menelurkan sebuah teori. Manusia selalu merasa kurang puas apa yang dimiliki. Itu sebabnya apapun dilakukan untuk mendaki menuju status sosial yang lebih tinggi. Saya masih mengkhawatirkan sampai kapan budaya korupsi ini akan melekat pada negeri ini.  Saya masih memimpikan negeri Denmark yang telah terlabel negeri dengan tingkat kepercayaan yang tinggi yang dijunjung oleh masyarakatnya.

Korupsi telah mewabah sampai kalangan terendah. Tidak dipungkiri bahwa masyarakat kelas sosial dan ekonomi rendah pun ikut tenggelam dalam ruang korupsi. 9 Desember 2015 dinobatkan sebagai hari pemilihan kepala daerah nasional. Masyarakat kelas bawah berlomba-lomba untuk memenangkan calon yang telah difanatikkan untuk maju memimpin. Money politic pun telah bermunculan, harga suara untuk 5 tahun mendatang telah dihargai tidak lebih mahal dari sebatang rokok. Pembodohan intelektual masyarakat telah tercipta.

Saya masih memimpikan, sebagaimana Pak Rocky Gerung selaku dosen filsafat Universitas Indonesia mengatakan, bahwa “etika itu tidak ada urusan dengan nasionalisme, ia melampauinya”. Sampai kapan kita mampu beretika dan berpikir logis secara manusia dan tidak lagi menganut logical fallacy (kesesatan berpikir) dalam hal menanggulangi korupsi. Kita mempunyai kuantitas sumber daya manusia yang berlimpah namun belum untuk kualitasnya.

Ya! Mari bersama-sama menindaklanjuti dan menanggulangi korupsi di lingkungan sekitar yang notabene sebagai lingkungan berpendidikan. Tidak perlu berteriak “STOP KORUPSI!” dijalan dengan almamater universitas. Mulailah beretika sederhana untuk bertindak semanusiawi mungkin dan berpikir logis agar egoism tidak menutupi diri. Saya masih optimis dengan negeri ini untuk menjadi negeri dengan masyarakat yang saling percaya dalam bertindak antara  dua kubu. Tidak perlu tangan di bawah meja dalam hal menyelesaikan masalah. Saya ingin Indonesia yang SELO, yang tidak perlu mendaki status sosial yang tinggi supaya terlihat seperti orang kaya yang wah! Saya masih optimis tidak ada korupsi lagi untuk tahun-tahun ke depan.

Imam Kurniawan

1 2 3 4
Mengunduh Keteladanan dari Negarawan Berpendidikan