KI YogyaKI Yogya

Category : KIY Writing Challenge

Secara berkala, Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY) mengadakan pengumpulan ide dan opini mengenai topik tertentu yang tertuang dalam bentuk tulisan.

Beberapa topik yang telah dikumpulkan di antaranya:

By KI Yogya

Menanamkan Kejujuran Sedari Dini

 

Berita tentang praktik korupsi memang tak pernah ada habisnya menghiasi wajah media di negeri ini. Jika disebutkan dan dibahas satu per satu akan menjadi panjang dan menjadi kasus yang tak kunjung usai. Pernah ada pertanyaan dalam hati, kapan negeri ini akan bebas dari praktek korupsi? Bahkan sejak menduduki bangku sekolah dasar, kata korupsi sudah akrab di telinga dan sampai sekarang pun masih sering terdengar berita korupsi masih terjadi di mana-mana. Tak harus di media cetak maupun elektronik, praktik korupsi pun cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) katanya ada untuk memberantas korupsi. Toh, sampai sekarang masih belum juga menunjukkan perubahan signifikan bahwa negeri ini sudah bebas dari korupsi. Permasalahan pun semakin pelik karena menjalar ke berbagai aspek kehidupan ekonomi maupun sosial-politik. Praktek korupsi ini pada akhirnya juga mengakar ke praktek kolusi, nepotisme yang kemudian dikenal dengan KKN dan bahkan praktek suap sekalipun. Terlalu panjang dan bertele-tele jika harus dijelaskan satu per satu karena satu kasus korupsi kasusnya menjalar ke praktek-praktek kejahatan lainnya yang tentunya merugikan.

Tidakkah kita bisa fokus pada bagaimana mencegah korupsi agar tidak terus terjadi. Jika sekarang masih terlalu sulit untuk memberantas korupsi secara keseluruhan, kita masih punya harapan untuk mencegahnya di masa depan. Permasalahan korupsi memang terlalu pelik untuk diulik, tetapi akar permasalahan korupsi ini sebenernya terlalu sederhana. Sederhana tapi banyak sekali orang-orang yang masih sulit melakukannya, karena berasal dari pribadi masing-masing. Meskipun demikian, pada kenyataannya lingkungan pun turut berpengaruh dan memiliki andil apakah seseorang akan melakukan korupsi atau tidak.

Hemat saya, korupsi adalah suatu tindakan tidak jujur yang pada akhirnya merugikan pihak lain karena menggunakan hak-hak orang lain tanpa sepengetahuan orang lain tersebut. Nah, jelas di sini akar permasalahannya adalah ketidakjujuran. Jika saja jujur kepada orang yang memiliki hak tersebut kemudian menggunakan atas izin orang tersebut, sudah jelas korupsi tidak akan terjadi. Secara langsung tentu saja korupsi ini sama dengan mencuri, hanya caranya saja yang berbeda. Korupsi adalah mencuri dengan cerdas tanpa membobol pintu ataupun lari-lari dikejar satpam.

Seandainya saja sedari dini dalam diri kita dan generasi di bawah kita ditanamkan kejujuran, pastilah negeri ini akan bebas dari korupsi dalam beberapa tahun ke depan. Jujur dalam arti kita berkomitmen dan konsisten atas apa yang sudah kita katakan dan atas apa yang menjadi tanggung jawab serta amanah kita. Contoh kecil saja bagaimana jujur menjaga amanah seperti ketika kita diamanahi ibu untuk belanja ke pasar. Kemudian jika ada uang belanja yang tersisa, janganlah kita mengambil uang sisa belanja untuk membeli keperluan lain tanpa seiizin ibu. Tetapi, kembalikanlah uang tersebut karena itu bukan hak kita.

Contoh lain dalam hal tanggung jawab yang seringkali kita abaikan karena merasa ‘ah, tidak ada yang melihat, tidak ada yang tahu’. Padahal, kita sudah berbohong dengan diri kita sendiri dengan cara seperti itu. Ketika kita diamanahkan memegang uang iuran misalnya, jangan sampai kita menggunakannya untuk kepentingan pribadi kemudian memanipulasi laporan. Ini sudah termasuk korupsi meskipun dalam jumlah kecil. Efek sampingnya adalah jika kita sudah tidak menanamkan kejujuran pada diri sendiri diawali dengan ketidakjujuran-ketidakjujuran seperti ini, bisa ditebak inilah yang akan menjadi langkah awal pencuri kelas besar di ranah yang lebih luas lagi yang menyangkut kepentingan bangsa dan negara ini. Apalagi jika nanti sudah memegang amanat sebagai wakil rakyat maupun menduduki kursi pemerintahan karena sudah ada sebuah kekuasaan pada genggamannya.

Namun, janganlah pesimis. Kita masih punya banyak harapan. Kita masih punya anak-anak generasi masa depan untuk bangsa ini. Kita masih punya mereka yang kelak akan menjadi generasi penerus yang kita harapkan akan mengubah negeri ini lebih baik dan secara massif memberantas korupsi. Tidakkah kita ingin menanamkan nilai-nilai kejujuran sedari dini dalam diri mereka? Dimulai dari diri kita sendiri, memberikan teladan untuk anak-anak. Dengan mengajak mereka untuk selalu menanamkan nilai kejujuran dari hati, anak-anak dengan sendirinya belajar menjadi pribadi yang jujur. Dengan demikian, harapan negeri ini bebas dari korupsi bukanlah hal yang tidak mungkin.

 

Devi Murti

By KI Yogya

Korupsi? Mari Berkaca dan Belajar!

 

 

 

Kemarin, 9 Desember 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Korupsi Sedunia. Berbagai macam peringatan Hari Korupsi banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia bahkan di dunia. Mulai dari penggalangan aksi menentang korupsi, kampanye anti korupsi, penggunaan baju hitam sebagai lambang berduka akibat maraknya korupsi, dan masih banyak hal lain yang dilakukan. Di Indonesia, sedang marak dibicarakan tentang terbongkarnya skandal perselingkuhan yang dilakukan oleh anggota DPR dengan PT Freeport. Berita perselingkuhan yang mengarah pada tindakan korupsi ini tersebar di seluruh media massa, mulai dari media cetak maupun elektronik, yang berhasil dinobatkan sebagai berita nasional (baca: bencana nasional).

 

Saya memilih untuk tidak membicarakan tentang skandal tersebut, terlalu melelahkan sepertinya, karena menyangkut moral, hajat hidup orang banyak, asset negara, bahkan melibatkan multi-aspek dan multi-dimensi. Saya memilih untuk membahas korupsi dalam hal yang sederhana. Ingatkah kita tentang peribahasa “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”? Peribahasa tersebut memperlihatkan bahwa kita selalu mencari kesalahan orang lain, bahkan kesalahan yang sangat kecil yang orang lain lakukan pun kita perkarakan, namun kita cenderung tidak mampu melihat kesalahan kita sendiri. Artinya apa? Artinya kita harus berkaca. Berkaca dalam hal apa? Sebelum mencari kesalahan orang lain kita harus mawas diri dan menilai diri kita sendiri apakah sudah lebih baik dari orang tersebut. Lalu apa hubungannya dengan korupsi? Sebelum kita mencaci-maki mereka “di atas sana” menyelewengkan asset negara demi kepentingan pribadi, tidak ada salahnya kita bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu, apakah kita yakin tidak melakukan korupsi walau dalam skala kecil?

 

Beneran sudah yakin? Mari kita berkaca! Ambillah sebuah kaca dan lihatlah pantulan diri kita di kaca, apakah kita cantik atau ganteng? Eits, kita tidak sedang dalam membicarakan fisik, lho, ya. Cantik atau ganteng itu relatif. Berkacalah dalam rangka mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan, sudah sesuai dengan koridor atau belum.

 

Sederhananya, mari belajar! Apa saja, sih, batasan korupsi? Apakah korupsi hanya dimaknai sesuai dengan kasus perselingkuhan Ketua DPR vs PT Freeport? Atau korupsi hanya akan dimaknai sesuai dengan Undang-undang? Menurut saya, sih, tidak. Sekali lagi saya tekankan TIDAK. Saya lebih memilih untuk memaknai korupsi secara lebih luas.

 

Mari belajar! Pertama, korupsi waktu. Mari kita ingat, seberapa sering kita datang tepat waktu saat berangkat kerja, berangkat sekolah atau kuliah, atau bahkan saat punya janji dengan orang lain. Sering sekali kita jumpai janji dengan orang lain pukul sekian tetapi baru datang jangankan menit tapi bisa jadi malah datang sejam atau beberapa jam kemudian. Yakin selalu on time? Mari kita berkaca!

 

Kedua, korupsi materi. Mari kita ingat, mungkin salah satu dari kita pernah diminta ibu kita untuk membeli sesuatu di warung. Uang kembalian masuk kantong pribadi dan laporan kepada  ibu bahwa tidak ada sisa. Selain itu, mungkin kita juga pernah kehabisan uang atau lupa tidak membawa uang lebih tetapi ingin membeli sesuatu dan pada akhirnya meminjam uang kepada  teman kita. Lalu kita bilang kepada teman kita, “Pinjem duitmu dulu, ya. Besok kubalikin”. Nah, pernah, kan, kita lupa untuk mengembalikan? Pasti ada yang pernah melakukan (walaupun sampai sekarang masih lupa, hehehe). Masih banyak contoh yang lain. Yakin belum pernah melakukan korupsi model ini? Mari kita berkaca!

 

Ketiga, korupsi kata. Menurut hemat saya, korupsi kata hampir mirip dengan berbohong. Artinya, memotong sejumlah kata dari seluruh kalimat yang seharusnya dikatakan kepada orang lain. Bagi yang sudah berkeluarga, mungkin pernah dengan sengaja atau tidak sengaja mengatakan yang tidak sebenarnya kepada anaknya dengan alasan agar si anak tidak terlalu banyak bertanya. Mari kita ingat kembali, pernahkah kita mengkorupsi kata kepada teman, saudara bahkan orang tua kita. Yakin belum pernah melakukan? Mari kita berkaca!

 

Apa yang saya sampaikan di atas hanyalah sebagian kecil contoh korupsi yang sering kita lakukan. Masih banyak jenis korupsi lainnya. Mungkin akan saya sampaikan di lain kesempatan. Inti dari tulisan ini adalah bahwa penanganan korupsi membutuhkan waktu yang panjang dan effort yang besar. Korupsi sudah mengakar kuat dan seperti terjadi turun-temurun. Siapa sangka mereka yang saat ini melakukan korupsi dahulu mempunyai idealisme yang tinggi. Namun, karena tuntutan kebutuhan dan iming-iming materi, lalu ‘terjebak‘ melakukan korupsi. Begitu pula halnya dengan kita yang punya tingkatan idealisme masing-masing. Semua orang, termasuk kita, sesungguhnya sangat rentan terhadap tindakan korupsi.

 

Lalu bagaimana penanggulangan dan penanganan yang paling efektif? Terlepas dari kompleksitas masalah korupsi di Indonesia yang seolah sudah mendarah daging, mengakar dan turun temurun. Apakah bisa dilakukan dengan membasmi orang-orang yang terlibat tindak korupsi tersebut lalu mulai hidup baru? Sudah tentu tidak bisa. Yang paling efektif yaitu mari kita benahi dari dalam diri kita terlebih dahulu. Bisa dibayangkan bagaimana efek positifnya jika setiap orang mau memperbaiki dirinya sendiri lalu mampu memberikan contoh kepada orang lain. Mari kita coba! Sederhananya, kita belajar untuk tepat waktu terhadap apapun, tidak berbohong dalam kondisi apapun, tidak mengurangi yang menjadi hak orang lain, dan lain-lain. Artinya harus ada perbaikan manajemen waktu, manajemen diri, hingga menjaga mulut dan hati. Bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, bagaimana berani mencoba memperbaiki diri untuk dapat memberikan contoh kepada anak/ istri/ suami. Bagaimana si orang tua memberikan contoh dan pelajaran si anak menjadi titik tekan penanggulangan korupsi dalam jangka panjang (baca: pendidikan karakter/ pendidikan usia dini). Bagaimana membentuk karakter dan kebiasaan positif anak sejak dari kecil. Lebih lanjut, bagaimana penanganan korupsi jangka pendek?

Mari kita berkaca dan belajar!

 

Galih Prabaningrum

By KI Yogya

Gang Pesing

 

Bajilaks, meminjam bahasa Randra, bukan WS Renda ataupun Randra Randra lainnya, ini Randara, Randara bajilaks. Bajilaks bukan semua umpatan, ataupun sindiran melaikan kata ganti untuk prasangka kebingungan tingkat dewa, tapi hingga saat ini aku belum tau kata “bajilaks” apakah melebihi rasa cinta Imam ke Otti, Dani, Hamid atau malah Farmaditya  yang baru baru ini jadi teman tidurnya. Bajilaks tenan iki. Duh.

 

“Di suatu hari” ya, sebuah awal tulisan yang sudah sangat sekali di gunakan, mungkin sudah seringnya dipakai, awalan disuatu hari  sudah menjadi mainstream, ah bajilaks banget kata para penulis penulis yang sudah menulis ratusan bahkan ribuan judul artilel. Tapi menurutku, di suatu hari adalah sebuah kata yang bagus untuk awal, ya walaupun mainstream, toh juga nanti yang anti mainstream akan jadi mainstream.

 

Alarm di sering pukul 9 pagi, ya itu waktu yang sangat nyaman untuk bangun untuk saya. Jika terlalu pagi aku justru bingung mau beraktifitas apa? Sarapan, percayalah sarapan sendiri itu tidak enak. Seperti nonton konser sendiri jugalah sangat membosankan.

 

Jam 11 aku terbangun, membaca percakapan grup whatsapp yang bejubel dan tak jarang isinya hanya meributkan mau sarapan dimana. Satu dua kali bahkan tiga kali sarapan bareng, aku gagal untuk ikut. Aku bangun sudah jam makan siang. Malam kembali datang, pekerjaan menunpuk.

 

Alarm aku seting jam 7 pagi, yah harapannya hanya untuk bisa ikut sarapan bareng. Baijilaks, jam 7 masih kurang pagi. Mungkin benar kata fotografer-fotografer karbitan lebih mudah menjadi seorang penulis. Setiap momen bisa ditulis dengan manis, kapan pun dimana pun dengan apapun, sangat beda dengan fotografer yang harus bangun tengah malam menyusuri lembah hanya untuk memotret matahari terbit, bajilaks banget kan. Makanya jangan jadi fotografer.

 

Tak pernah dapat sarapan bareng, masih ada makan siang atau yang lebih sering disebut maksi. Entah sudah berapa rumah makan hanya menjadi angan-angan untuk maksi. Ternyata maksi itu hanya seperti Bos Febri, ratunya pemberi harapan palsu, wanita yang sangat sering membatalkan janjian di menit menit akhir, hingga kami menjulikinya ratu PHP, nyata tapi fana. Ya mungkin mereka sedang sibuk atau menyibukan diri dengan pekerjaan masing-masing, ntah lah. Aku tidak berani menuduh, aku juga di ajakpun mungkin cuman bisa bilang “nanti malam saja”.

 

Percakapan semacam itu menjadi keseharian selama 5 bulan terakhir, bangun siang pulang pagi. Dan itu menyenangkan. Setiap harinya membuka email, melihat ada tulisan tulisan lucu dari teman teman, ya mungkin meraka sepertiku orang yang dipakasa menulis padahal suka fotografi. Satu tulisan belum selesai dibalas sudah muncul tulisan baru, bukan tidak mau membalas, tapi saya harus merasakan dengan mata hati telingan dan merasakan dengan lihat terlebih dahulu.

 

Meminjam lirik kla-project, ” setiap sudut jogja mempunyai keromantisannya” ya mungkin mereka belum merasakan sudut bringharjo, candi karang apalagi sudut bulaksumur yang pesingnya tidak ketulungan. Seperti halnya televisi dan poster yang menawarkan pembukaan pendaftaran mahasiswa di kampus kampus jogja. Ribuan mahasiswa itulah yang membuat jogja pesing. Seks bebes dan coret coret tempok pun merabak. Tapi dibalik semua itu aku masih mendapatkan hikmah, banyak mbak mbak cantik yang aku kenal.

 

Lantas apa meraka salah kuliah di jogja? Tidak, mereka hanya salah memilih tempat untuk pipis. Mereka tidak tahu dimana mereka harus pipis karena sejak SD sudah terbiasa pipis sembarangan.

 

Disela sela gang pesing, aku membaca tulisan kelas inspirasi. Pendaftarqn tinggal satu hari lagi, bermodalkan kamera dan buku manual, aku mendaftar dan tersesat di dunia pendidikan sekolah dasar yang rupanya tidak kalah pesing. Anak kecil bercita-cita menjadi PSK, jambret dan koruptor. Tidak tau ini salah siapa? Salah televisi yang sudah mengenalkan beragam profesi tersebut : jambret, PSK, dan koruptor!

 

Menurutku, koruptor dan jamret adalah sebuah profesi yang baru profesi yang ditimbulkan karena tidaknya orang baik lagi yang muncul di berita televisi. Arsitek, dokter dan penulis sudah tidak laku lagi di jual di televisi.

 

Teman teman kelas inspirasi kini dengan tekat bulat berusaha mengguyur gang gang pesing tersebut, perlahan namun pasti. Semua boleh berperan serta, ada yang membawa ember, menyediakn air dan hanya yang sekedar memberitahu sumber air, yang paling penting adalah teman, teman ngopi pemuda. Dari sanalah banyak macam cara untuk membuang gang gang pesing.

 

***

Saat ini teman teman KIY sedang mempersiapkan ember dan air sebanyak mungkin dan teman teman yang lain sedang mempersiapkan nama baru untuk koruptor, karena koruptor sudah masuk dalam undang undang negara dan bahaya jika ketahuan polisi.

 

1 2 3 4
Gang Pesing