Kelas Inspirasi dan Hal-hal yang Menggugah Hati

Kelas Inspirasi dan Hal-hal yang Menggugah Hati

kiy wrSaat saya kelas 2 SD, cita-cita saya adalah menjadi astronot. Kata astronot saya kenal pertama kali saat saya mulai membaca sebuah majalah anak-anak berbasis nasional. Di tahun yang sama, cita-cita saya bergeser menjadi Menteri Sekretaris Negara (saat itu, tahun 1998, seingat saya namanya Mensesneg, entah singkatan dari apa). Kata bapak saya, mensesneg adalah ketuanya para menteri, gajinya hanya kalah oleh presiden.

Kelas tiga-empat SD, cita-cita saya berubah menjadi anchor (istilah ini saya ketahui pula dari majalah). Ini gara-gara saya melihat Arief Suditomo menandatangani kertas yang dia pegang saat membaca berita dan, lagi-lagi, kata bapak saya si Arief akan mendapat uang setelah dia keluar dari ruang siaran.

Kelas 5-6 SD, cita-cita saya bukan lagi menjadi anchor tetapi menjadi wartawan lapangan. Ini karena saya merasa anchor tidak menantang, dan akan lebih keren bagi saya untuk live report dari tempat kejadian secara langsung.

Masa-masa sekolah dasar adalah masa saat saya menyerap banyak sekali informasi. Seringkali, informasi tersebut bisa jadi motivasi paling besar dalam hidup. CIta-cita sebagai wartawan saya simpan hingga saya lulus SMA, dan membuat saya memilih jurusan kuliah yang berbau wartawan. Meski saat ini profesi saya berbeda, dan saya tidak lagi berminat menjadi wartawan, saya sadar bahwa pengetahuan itulah yang membawa saya pada titik saat ini.

Di sisi lain, setelah mengamati beberapa teman, saya menemukan bahwa mereka yang saat ini saya anggap sukses (mampu mengekspresikan dirinya dan memiliki profesi yang mereka inginkan) tidak semuanya adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam kecukupan. Seringkali masa kecil mereka terbatas. Tapi mereka memiliki niat yang kuat, didorong oleh motivasi yang mereka dapat entah dari cerita orangtua ataupun melihat orang lain.

Berkaca pada beberapa hal di atas, saya menyimpulkan bahwa cerita adalah media motivasi yang efektif untk anak usia sekolah dasar. Ceritakan pada mereka sesuatu yang baik, maka mereka akan jadi hebat. Ceritakan pada mereka sesuatu yang hebat, mereka akan jadi luar biasa.

Dulu, saya tahu mengenai beragam profesi hanya dari majalah, televisi, dan ayah saya. Sekalipun saya tahu, tetap saja terasa ada jarak yang memisah. Saya ingin jadi astronot, saya tidak pernah bertemu astronot. Saya ingin jadi anchor, saya tidak pernah bertatap muka langsung dengan anchor. Saya ingin jadi wartawan, saya tidak pernah bersua dengan wartawan. Namun, impian itu nyatanya tetap kekal.

Hal tersebutlah yang mendorong saya untuk ambil bagian dalam Kelas Inspirasi. Bagi saya, hadirnya orang-orang dengan beragam profesi akan meluaskan pandangan anak-anak mengenai pekerjaan-pekerjaan di luar yang telah mereka ketahui. Sesudahnya, mereka jadi memiliki banyak sekali pilihan seandainya sejalan dengan waktu mereka tak bisa menggapai apa yang tadinya mereka mau.

***

Ini kedua kalinya saya bergabung dengan Kelas Inspirasi Yogyakarta. Secara keseluruhan, ini adalah tahun kedua, kota kelima saat tulisan ini dibuat, dan akan segera jadi enam kota sekira dua minggu lagi. Bergabung dengan KI berarti bertemu teman baru, membangun jaringan baru, dan mendapat ilmu baru. Ilmu yang didapat bukan hanya dari sesama relawan tetapi juga melalui perantara anak-anak di sekolah-sekolah yang saya kunjungi. Sesekali, perjalanan ke sekolah-sekolah tersebut membuat mata saya terbuka akan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan (meski saya baru menjelajah area Jawa bagian tengah saja).

Lewat Kelas Inspirasi, saya disadarkan pada beberapa hal:

  1. Sekolah negeri di DIY, sepelosok apapun, memiliki bangunan yang layak. Saya tidak punya cukup data untuk memberikan penjelasan mengapa layak. Tapi buat saya, kelayakan bangunan adalah hal baik dalam menunjang pendidikan.
  1. Bangunan SD yang layak bukan jaminan sekolah tersebut memadai

Maksud saya adalah seringkali sekolah, terutama di pedesaaan, tidak mengakomodasi kebutuhan siswa.

Sekolah pertama yang saya kunjungi di KI adalah sekolah di pelosok Gunungkidul. Meski sekolah tersebut layak, terdapat beberapa anak berkebutuhan khusus (ABK) yang tak tertangani dengan ideal. Sang guru tahu bahwa mereka ABK, namun sekolah untuk ABK cukup jauh dari desa padahal orangtua anak-anak tersebut kurang mampu. Akhirnya, guru terpaksa memberikan treatment yang sama kepada para ABK terssebut. Ini tentu menjadi masalah tersendiri.

  1. Anak usia sekolah dasar memiliki cta-cita sejalan dengan kondisi lingkungan

Jadi dokter, polisi, tentara, itu sudah biasa. Tapi jadi pembantu, jadi sopir truk, jadi TKI, adalah “impian” anak-anak yang membuat saya trenyuh. Bukan salah mereka jika mereka bermimpi demikian. Orang dewasa lah yang berperan dalam memberikan pengaruh buat mereka. Hadirnya profesional di sekolah, saya rasa mampu meluaskan pengetahuan anak-anak mengenai pekerjaan.

  1. Infrastruktur adalah hal yang penting

Ada sekolah, sekolahnya bagus, muridnya banyk, gurunya lengkap, perpustakaan memadai, tapi akses menuju sekolah tidak baik? Sama saja.

Aksesibilitas adalah hal yang juga kadang masih menjadi problem utamanya di wilayah pedesaan dengan topografi “menegangkan”. Pada KIY #4, saya ditempatkan di Gunungkidul. Jalannya aspal, tapi naik turun. Saya jadi membayangkan bagaimana jika kondisinya lebih buruk, mungkinkah anak-anak tetap bersemangat sekolah?

Saat ini, daftar tersebut berhenti sampai pada titik tersebut. Namun saya yakin, seiring dengan keikutsertaan saya di Kelas Inspirasi, saya akan menemukan lagi hal-hal yang menggugah hati dan meyakinkan saya bahwa kegiatan ini sangatlah bermakna.

 

Dhina Rohmawati

relawan dokumentator KIY #4 dan KIY #5

0821 3365 9930 | @rhmdhina

Publikasi KIY