KELAS INSPIRASI YOGYAKARTA DI NEGERI SERBA ADA

“Relawan tak dibayar bukan karena tak BERNILAI, tetapi tidak ternilai”

– Anies Baswedan –

 

Pendidikan adalah investasi yang tidak ada habisnya di hampir semua zaman. Pendidikan juga merupakan hal utama dan mendasar dalam menerapkan berbagai kegiatan, baik pada kegiatan sains, sosial, budaya, politik, pertahanan dan keamanan, serta bermacam kegiatan lainnya. Secara harfiah pun pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah kebutuhan bagi interaksi pemenuhan kegiatan-kegiatan tersebut.

Janji Kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sangat jelas menyampaikan  tentang “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Dengan demikian, jelas pulalah peran pendidikan dalam “ruang ber-negara” di Indonesia.

Dalam kegiatan yang dilakukan di semua bidang kehidupan, tentunya tidak lepas dari interaksi. Interaksi tersebut terjalin antar manusia yang saling mempunyai kebutuhan serta kepentingannya masing-masing. Interaksi yang terbangun tersebut dapat menjadi keuntungan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Beberapa hal yang perlu dipenuhi agar interaksi tersebut berjalan lancar adalah pembauran kegiatan-kegiatan yang beraneka ragam, sehingga kita dapat melihat adanya dua atau lebih kegiatan yang berbeda dan dapat menjalin interaksi yang saling berhubungan pada satu waktu secara bersamaan, tentu saja akan ada faktor yang mempengaruhi bagaimana interaksi dua atau lebih kegiatan tersebut berjalan pada satu waktu yang bersamaan.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia menyatakan : Tri Pusat Pendidikan meliputi Pendidikan dalam Keluarga, Pendidikan di Sekolah, dan Pendidikan di Lingkungan Masyarakat. Lingkungan masyarakat memiliki peran penting di dalam melihat perkembangan pendidikan sang anak, atau dengan kata lain kualitas pendidikan  juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, kondisi aktual saat ini belum menjamin  terjadinya interaksi positif antara keluarga, sekolah, dan lingkungannya.  Dalam beberapa kasus keberadaan sekolah seringkali tidak berada di lingkungan spasial yang ideal dan steril, namun tak jarang sekolah-sekolah harus berada di ruang-ruang interaksi publik, diantaranya ruang ekonomi maupun ruang sosial yang lain.

Kegiatan pendidikan dengan interaksi sosial di lingkungan sekitarnya dapat diperoleh melalui pengamatan kegiatan belajar dan mengajar di sekolah yang bersinggungan  dengan kegiatan ekonomi, misalnya kegiatan jual-beli di pasar. Interaksi kedua kegiatan tersebut berlangsung secara bersamaan pada satu waktu. Hal ini menjadi salah satu parameter, apakah kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan kegiatan interaksi di pasar tersebut saling mempengaruhi dan memberikan dampak positif maupun negatif dalam pelaksanaannya?

Pasar adalah salah satu wujud pelaksanaan interaksi sosial ekonomi antar manusia. Tidak dapat dinafikan bahwa di dalam pasar terdapat sekerumunan manusia berkegiatan dengan kebutuhan dan kepentingannya masing-masing. Secara fisik, pasar yang berdekatan dengan sekolah memberikan pengaruh positif dan negatif tentunya.

Dampak positif diantaranya adalah :

  1. Keuntungan tersendiri bagi orang tua murid yang berjualan dan ingin melakukan jual-beli di pasar dengan mengantarkan anak-anak pulang-pergi ke sekolah dalam waktu yang bersamaan melalui akses jalan yang dilewati. Pasar juga dapat menjadi laboratorium hidup bagi siswa untuk mengenal kehidupan sosial ekonomi secara langsung.
  2. Beberapa pekerjaan orang tua murid yang mayoritas sebagai penjual di pasar menjadi salah satu motivasi untuk menyekolahkan anak-anak di Sekolah Dasar yang berdekatan dengan pasar.
  3. Kegiatan belajar mengajar dapat dihubungkan dengan kegiatan pasar yang bersifat wirausaha sehingga menjadi suatu ilmu pengetahuan tersendiri bagi anak-anak serta tenaga pengajar yang berhubungan langsung dengan kegiatan wirausaha di pasar yang berdekatan dengan sekolah.

Dampak negatif dapat pula dilihat dari beberapa faktor berikut :

  1. Fasilitas jalan di wilayah tersebut menjadi lebih ramai, karena lalu lintas ke pasar berhimpit dengan kegiatan sekolah.
  2. Density atau kepadatan spasial relatif tinggi sehingga tidak tercipta ruang hijau di lingkungan sekitar sekolah dan pasar sesuai persyaratan (tak jarang fasilitas sekolah cenderung tidak mengalami perkembangan dan merupakan sekolah yang sudah dibangun sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu).
  3. Jika musim penghujan, kondisi pasar cenderung kotor sehingga menimbulkan genangan air hujan di beberapa lokasi tertentu, hal tersebut dapat memicu timbulnya sarang penyakit.
  4. Lingkungan di sekitar pasar yang cenderung menjadi salah satu tempat kerumunan orang yang bebas untuk melakukan kegiatan apapun (sopan santun, tata karma yang tidak baik) menjadi kekhawatiran para orangtua bila kebiasaan bebas tersebut terbawa dalam kehidupan sehari-hari siswa/siswi Sekolah Dasar.
  5. Lokasi Sekolah Dasar yang dekat dengan pasar umumnya dapat dijumpai di pelosok kabupaten. Hal tersebut menjadikan anak-anak yang bersekolah disana sangat familiar dengan profesi di lingkungan sekitarnya yang hanya didominasi oleh pedagang. Pengetahuan yang sangat terbatas akan profesi, menjadi salah satu tolak ukur penggambaran cita-cita anak-anak sehingga menjadi sebuah perhatian khusus.
  6. Letak Sekolah Dasar yang berdekatan dengan pasar dan atau terminal berpotensi terganggu akibat kebisingan di ruang-ruang publik tersebut. Sebagaimana kasus di Cikupa Banten, para wali siswa mengeluhkan polusi udara, tidak nyaman, serta bising yang menjadi gangguan bagi anak-anak mereka di sekolah. Siswa didik sering tidak dapat berkonsentrasi belajar, tak jarang pula terjadi kecelakaan lalu lintas menimpa anak maupun guru.
  7. Ada indikasi bahwa angka putus sekolah cukup tinggi di sekolah-sekolah yang dekat dengan pusat perekonomian seperti pasar, karena anak dan orangtua cenderung berpikir pragmatis tentang pendidikan dan peluang kerja.

Keadaan tersebut di atas mencerminkan Indonesia yang mempunyai banyak elemen (negeri serba ada) namun tidak dapat memanfaatkan sumber daya tersebut bagi dunia yang amat penting untuk masa depan bangsa, yakni dunia pendidikan.

Di negeri yang serba ada ini, dunia pendidikan relatif masih kekurangan banyak sosok tenaga pengajar yang berkualitas serta fasilitas yang tidak merata di tiap wilayah. Berangkat dari kondisi tersebut, Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016 mencoba untuk fokus menginspirasi anak-anak di sekolah-sekolah yang berdekatan dengan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Diharapkan dengan kegiatan Kelas Inspirasi di sekolah yang berdekatan dengan pasar, akan memberikan hal-hal berikut bagi siswa :

  1. Memperluas wawasan mereka akan pilihan profesi yang bisa dijadikan cita-cita.
  2. Memberikan inspirasi untuk memiliki cita-cita setinggi mungkin.
  3. Memberikan motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan.
  4. Menanamkan empat nilai moral positif utama (kejujuran, kerja keras, pantang menyerah, dan kemandirian) sebagai jalan untuk mewujudkan apa yang diimpikannya.
  5. Menyadarkan amat pentingnya sikap menghormati orangtua dan guru dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mimpi tertinggi mereka.

Oleh karena itu, tahun ini kami mengangkat tema “Kelas Inspirasi Yogyakarta di Negeri Serba Ada” sebagai tema Hari Inspirasi.  Kami berharap Kelas Inspirasi Yogyakarta dapat menjadi momentum bagi semua sumber daya dan elemen untuk bangkit memajukan pendidikan di negeri serba ada bernama Indonesia.