1913224_223995241137020_1406795835_o

Jika bercerita tentang awal terselenggaranya Kelas Inspirasi Yogyakarta, saya langsung teringat dengan diskusi positif yang menyenangkan saat pertama kali bertemu dengan Pak Hikmat Hardono (Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar) dan beberapa teman di sebuah tempat makan di Jogja. Diskusi hangat dimulai dari memperkenalkan Kelas Inspirasi yang saat itu masih asing didengar oleh telinga saya, dan cerita pengalaman serunya kegiatan Kelas Inspirasi yang dirasakan relawannya. Kelas Inspirasi menjadi salah satu solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Partisipasi para profesional dengan berani cuti sehari dan berbagi pengalaman merupakan partisipasi pribadi, bukan institusi. Ini sangat menarik!

Bersama Wildan, Teguh, Fajar, Denis, Mbak Fara, dan Zaki, saya mulai membiasakan diri dengan kalimat-kalimat optimis dan positif yang disampaikan Pak Hikmat kepada kami. Perbincangan siang itu memang istimewa, hari itu saya dan teman-teman diberi tantangan untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi di Jogja. Saat itu, Kelas Inspirasi akan diadakan serentak pada bulan Februari 2013 di 6 Kota besar di Indonesia. Bahagia dan bangga karena Jogja terpilih menjadi salah satu kota tujuan Kelas Inspirasi. Tantangan Pak Hikmat kami terima dengan semangat. Kami tertantang karena ini kegiatan baru untuk Jogja, sekaligus bingung siapa yang akan diajak untuk ikut serta di kegiatan ini. Lebih kaget lagi karena pembukaan pendaftaran relawan dilaksanakan sepanjang bulan Januari, atau hanya ada waktu kurang lebih 20 hari untuk persiapan kegiatan yang mengajak orang-orang profesional se-Jogja.

“Niat baik selalu punya jalannya sendiri.” Kalimat tersebut memang selalu mampu menenangkan hati dan pikiran kami saat itu. Satu persatu teman mulai merekomendasikan teman-temannya untuk ikut bergabung di kegiatan Kelas Inspirasi ini mulai dari relawan pengajar sampai teman-teman dari pengajar muda dengan total panitia on/off adalah 19 orang. Personel semakin banyak, tugas sudah mulai dikerjakan, tapi sekali lagi “siapa yang akan ikut Kelas Inspirasi di Jogja ini?”. Pertanyaan itu selalu saja terlintas setiap kali kami rapat mingguan.

Saat itu Kelas Inspirasi di Jogja menggunakan 10 Sekolah Dasar sebagai pilot project. Sampai pada hari ke 10 pendaftaran dibuka, hanya ada 42 pendaftar di Jogja. Pesimis, sudah jelas, tapi optimis itu harus! Promosi melalui media sosial, melalui teman dari mulut ke mulut, sampai mengirim email setiap media untuk memberitakan kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Waktu yang singkat itu juga tidak kami sia-siakan begitu saja. Setiap hari kami mencari dan survey sekolah. Setiap minggu, kami melaporkan berapa sekolah yang bersedia dan tidak bersedia mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi ini. Dengan syarat sekolah Dasar negeri, marginal, dan dengan lingkungan yang kurang memadai sebagai tolak ukur adalah mata pencaharian orang tua, kami survei secara acak di beberapa wilayah Yogyakarta. Mulai dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Asing, baru pertama kali dengar dan ragu-ragu adalah jawaban yang selalu kami dengar dari para guru dan kepala sekolah dasar yang kami datangi. Dengan berbekal ‘the power of bribik’ kami berhasil mengumpulkan 10 Sekolah Dasar; SD Jarakan 3, SD Surokarsan 2, SD Nglahar, SD Baturetno, SD Srunen, SD Cemoroharjo, SD Tegalpanggung, SD Karangrejo, SD Delegan 3,  dan SD Salakan.

Detik-detik menjelang penutupan pendaftaran, pendaftar semakin banyak dengan profesi yang semakin beragam. Hasilnya, setelah penutupan ada 283 orang yang berhasil mendaftar sebagai relawan pengajar, 105 fotografer dan videografer. Jumlah yang sangat menggembirakan. Karena kami hanya membutuhkan 87 pengajar dan 40 fotografer dan videografer.

549087_224246107778600_2099603984_n

 

Banyak nama-nama yang tidak asing di telinga ketika melihat daftar calon relawan Kelas Inpirasi. Ada Bapak Herry Zudianto (Mantan Walikota Kota Yogyakarta), Marzuki Mohammad (musisi), Alissa Wahid (psikolog anak, sekaligus putri dari Gusdur), Lucy Laksita (MC & Presenter), Haryo Pramoe (chef), Sekar Sari (penari & putri Batik Nusantara), Salman Faridi (CEO Bentang Pustaka) dan masih banyak lagi tokoh masyarakat Jogja yang ikut serta dalam kegiatan ini. Puas dan bahagia! Kepuasan tak berhenti di masa pendaftaran saja, tetapi juga memastikan bahwa para relawan ini bisa datang saat briefing, hari inspirasi, dan refleksi.

Di hari briefing, hampir 100% peserta hadir untuk mengikuti arahan dan penjelasan tentang Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar. Kerumunan positif bisa dirasakan saat kita semua bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan pembagian kelompok sekolah. Kepala sekolah yang hadir saat itu sudah terlihat sangat bahagia karena sekolahnya akan dijadikan tempat kegiatan Kelas Inspirasi. Semua bersemangat menunggu ‘Hari Inspirasi’.

Saat Hari Inspirasi tiba, semua relawan yang sudah mempersiapkan bahan ajar dan cerita sangat antusias untuk masuk kelas. Banyak cerita relawan di kelas yang lucu dan menarik. Mulai dari anak yang pulang ke rumah karena ada dokter masuk ke kelasnya, sampai bermain dengan ular ketika salah seorang peneliti reptil datang membawa koleksi ular-ular yang dimiliki. Bukan hanya kegiatan mengajar dan memberikan materi saja yang dinikmati para relawan, tetapi juga cerita di balik keceriaan anak-anak, saling memberi kesan positif dan saling menularkan inspirasi adalah nilai yang bisa diambil dari kegiatan Kelas Inspirasi ini.

Yang menarik dan yang membuat kegiatan Kelas Inspirasi ini lain dari yang lain adalah penyelenggara Kelas Inspirasi selanjutnya adalah relawan pengajar yang sudah pernah terlibat aktif dalam kegiatan ini. Saling menularkan virus kebaikan inilah yang menjadi kunci suksesnya kegiatan Kelas Inspirasi dari tahun ke tahun. SUKSES!!

 

Ajeng Respati Wiji Utami

Relawan Penyelenggara Kelas Inspirasi Yogyakarta