KI YogyaKI Yogya

Tag : belajar

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Dorong Semangat Siswa

DAVIN siswa kelas 2 SDN Ngawen 3 tak begitu memperhatikan ketika relawan pengajar Kelas Inspirasi Yogyakarta Dr H Immawan Wahyudi MH memanggilnya agar ke depan kelas. Cita-cita Davin memang berbeda dengan teman-teman yang lain. Ketika teman sebayanya berkeinginan menjadi polisi, tentara, presiden, dan dokter,  Davin justru bersemangat menjadi sopir truk dump. “Tertarik untuk menjadi sopir truk ‘jongkeng’ atau dump,” ujar Davin polos di depan kelas.

Ketika Immawan menanyakan alasan Davin ingin menjadi sopir truk dump, Davin hanya tersenyum dan mengaku senang bila nanti besar bisa mengemudikan truk dump. Menurut Immawan cita-cita atau keinginan memang harus muncul sejak kecil. Sehingga menjadi  penyemangat siswa dalam belajar. “Banyak orang memiliki profesi ketika menjadi dewasa. Berbagai pekerjaan yang dilakukan tentunya mendatangkan penghasilan,” ujar Immawan yang juga wakil bupati Gunungkidul terpilih ini.

Ditemui usai mengajar, Immawan mengaku kelas inspirasi perlu diperbanyak di Gunungkidul. Jika tahun ini 24 guru se DIY dan Gunungkidul hanya mendapat jatah 5 sekolah, 2017 harus diperbanyak. Kelas inspirasi cukup baik, agar anak-anak di Gunungkidul dipernuhi semangat atau motivasi yang tinggi. “Melalui kelas inspirasi mampu mendorong pembangunan pendidikan dan kesejahteraan ke depannya,” jelasnya.

Diungkapkan, kelas inspirasi juga  mencegah anggapan pendidikan hanya cukup di SD atau SMP saja. Program ini tentunya akan mendorong peningkatan kepedulian bidang pendidikan, sehingga tidak ada anak putus sekolah. Harapannya kualitas sumber daya manusia di Gunungkidul semakin berkualitas. “Anak perlu dikenalkan profesi. Melalui pemahaman profesi dan usaha nantinya apapun pekerjaan akan mendatangkan pekerjaan,” ujarnya. (Dedy EW)

Sumber: http://krjogja.com/read/290185/kelas-inspirasi-dorong-semangat-siswa.kr

By KI Yogya

Polisi Warnai Kelas Inspirasi Yogyakarta

Tribratanews- Jogja . Brigadir Hendra Subbag Humas Polresta Yogyakarta menyambut dengan penuh semangat Hari Inspirasi Sabtu 6 Februari 2015. Memantapkan langkah kaki menuju sebuah wahana belajar di SD Kyai Mojo Yogyakarta. Ditemani rekan berbeda profesi seperti Psikolog, Sales Development, 2d artist , Apoteker , Chemist , Jurnalis majalah wanita, Karyawan Swasta telekomunikasi, Dosen dan dibantu kru fotografer maupun videografer memberikan pengalaman mereka bekerja di dalam kelas. Berkonsep Moving class , sebanyak 9 kelas dihadirkan dalam bentuk wahana sederhana. Pada saat moving , ketua rombel (rombongan belajar) membawa paspor yang dipergunakan sebagai akses masuk ke wahana berikutnya.
Kelas Inspirasi Yogyakarta kali ini bertajuk ” di negeri serba ada ” mengambil sekolah dasar yang berdekatan dengan pasar. Pasar yang identik dengan hiruk pikuk perdagangan baik jual beli , tawar menawar serta berbagai kebiasaan yang campur aduk. Keadaan ini sangat mempengaruhi keadaan lain di sekitarnya, termasuk sekolah sebagai tempat belajar. Disini kami hadir di tengah kerumunan anak SD untuk menyampaikan gambaran profesi yang sedang dijalani sekarang. Bagaimana cara menjadi profesi tersebut dan apa sih tugasnya. Berkomunikasi dengan anak- anak SD sangat menantang bagi mereka yang belum pernah mengajar.
Berbagai polah tingkah laku serta bahasa yang digunakan kadang tidak match. Pengajar yang lain sangat luar biasa , karena mereka berasal dari luar Jogja bahkan ada di sekolah lain dimana dari luar pulau. Para pengajar sebelum masuk wahana , secara bersama sama melakukan Flash Mob KIY dengan background music Sherina kembali ke Sekolah (HP)

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta Tumbuhkan Semangat Belajar Anak

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Polisi itu keren. Kalimat itu yang terucap dari Viko Darmawan, siswa kelas VI SDN Sosrowijayan, usai mengikuti Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY), Sabtu (6/2/2016).

Sudah lama ia berkeinginan menjadi seorang polisi, dan baru kali ini ia bisa bertemu dan berdialog langsung dengan relawan pengajar KIY, di mana satu di antaranya memiliki profesi sebagai polisi.

“Kami dikasih tahu tentang pentingnya berlalu lintas, termasuk cara menyebrang di jalan raya harus lihat sekitar dulu dan memastikan aman, lalu boleh jalan,” ungkapnya kepada Tribun Jogja.

Aiptu Jamar, relawan pengajar KIY yang datang dari Sat Binmas Polresta Yogyakarta mengaku sangat senang bisa terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, selain memberikan pendidikan berlalu-lintas kepada anak sejak dini, KIY dinilai efektif untuk mengajak mereka meraih cita-citanya.

“Bukan hanya bercita-cita, tapi dengan datangnya relawan pengajar dari beragam profesi, membuat mereka juga tahu jalannya seperti apa agar bisa meraih cita-cita tersebut,” beber Jamar.

Misalkan saja untuk menjadi seorang polisi, imbuhnya, maka anak harus sehat, displin, pintar, gagah.

“Jadi mereka sudah bisa mengerti sejak dini. Sehingga itu modal yang bagus untuk tidak gampang terprovokasi, tidak gampang terkena narkoba, dan sebagainya,” ucap Jamar.

Sementara itu, Kepala SDN Sosrowijayan, Chatrina Siti Nur Hayati menuturkan jika KIY sangat bagus untuk anak-anak karena membuat mereka giat belajar.

“Selama ini anak-anak ketika ditanya cita-cita hanya menyebutkan profesinya, namun kali ini mereka bisa bertemu dengan relawan pengajar dengan profesi yang berbeda. Penjelasan serta cerita yang menginspirasi dari relawan, akan memacu anak-anak untuk semangat belajar dan meraih cita-citanya,” tandasnya lantas tersenyum. (tribunjogja.com)

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2016/02/07/kelas-inspirasi-yogyakarta-tumbuhkan-semangat-belajar-anak

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta di SDN Malangan

SLEMAN (KRjogja.com) – Suasana riuh begitu terasa ketika tujuh orang dengan profesi berbeda masuk di tiap kelas SDN Malangan Moyudan Sleman. Ketujuh orang itu berprofesi sebagai polisi, radiografer, psikolog, penyelaras bahasa, editor, auditor dan animator.

Kedatangan mereka bertajuk Kelas Inspirasi (KI) yang digelar serempak pada Hari Sabtu (06/02/2016) di 24 Sekolah Dasar di Yogyakarta. Kegiatan KI kali ini sudah keempat kalinya digelar di Yogyakarta.

Diungkapkan fasilitator KI Yogyakarta, Muhammad Izzat Firdausi, kegiatan kali ini lebik unik dan beragam dibanding tahun sebelumnya. “Ada 579 pendaftar relawan pengajar dan terpilih sebanyak 247 orang. Tahun kemarin ada 335 pendaftar dan terpilih 250. Tema yang diambil sekarang adalah Negeri Serba Ada,” jelasnya.

Muhammad Izzat menjelaskan, untuk merepresentasikan tema tersebut diambil obyek Sekolah Dasar yang berdekatan dengan pasar. Sebab di pasar semua orang berbagai macam latar belakang, profesi dan jenis kelamin bertemu.

Kelas Inspirasi merupakan program dari Indonesia Mengajar. Kegiatan tersebut dilaksanakan satu hari di SD Negeri yang telah dipilih. Ratusan profesi berbagi inspirasi dengan mengajar di sekolah selama satu hari. (*34)

Sumber: http://krjogja.com/read/290039/kelas-inspirasi-yogyakarta-di-sdn-malangan.kr

By KI Yogya

Korupsi? Mari Berkaca dan Belajar!

 

 

 

Kemarin, 9 Desember 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Korupsi Sedunia. Berbagai macam peringatan Hari Korupsi banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia bahkan di dunia. Mulai dari penggalangan aksi menentang korupsi, kampanye anti korupsi, penggunaan baju hitam sebagai lambang berduka akibat maraknya korupsi, dan masih banyak hal lain yang dilakukan. Di Indonesia, sedang marak dibicarakan tentang terbongkarnya skandal perselingkuhan yang dilakukan oleh anggota DPR dengan PT Freeport. Berita perselingkuhan yang mengarah pada tindakan korupsi ini tersebar di seluruh media massa, mulai dari media cetak maupun elektronik, yang berhasil dinobatkan sebagai berita nasional (baca: bencana nasional).

 

Saya memilih untuk tidak membicarakan tentang skandal tersebut, terlalu melelahkan sepertinya, karena menyangkut moral, hajat hidup orang banyak, asset negara, bahkan melibatkan multi-aspek dan multi-dimensi. Saya memilih untuk membahas korupsi dalam hal yang sederhana. Ingatkah kita tentang peribahasa “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”? Peribahasa tersebut memperlihatkan bahwa kita selalu mencari kesalahan orang lain, bahkan kesalahan yang sangat kecil yang orang lain lakukan pun kita perkarakan, namun kita cenderung tidak mampu melihat kesalahan kita sendiri. Artinya apa? Artinya kita harus berkaca. Berkaca dalam hal apa? Sebelum mencari kesalahan orang lain kita harus mawas diri dan menilai diri kita sendiri apakah sudah lebih baik dari orang tersebut. Lalu apa hubungannya dengan korupsi? Sebelum kita mencaci-maki mereka “di atas sana” menyelewengkan asset negara demi kepentingan pribadi, tidak ada salahnya kita bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu, apakah kita yakin tidak melakukan korupsi walau dalam skala kecil?

 

Beneran sudah yakin? Mari kita berkaca! Ambillah sebuah kaca dan lihatlah pantulan diri kita di kaca, apakah kita cantik atau ganteng? Eits, kita tidak sedang dalam membicarakan fisik, lho, ya. Cantik atau ganteng itu relatif. Berkacalah dalam rangka mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan, sudah sesuai dengan koridor atau belum.

 

Sederhananya, mari belajar! Apa saja, sih, batasan korupsi? Apakah korupsi hanya dimaknai sesuai dengan kasus perselingkuhan Ketua DPR vs PT Freeport? Atau korupsi hanya akan dimaknai sesuai dengan Undang-undang? Menurut saya, sih, tidak. Sekali lagi saya tekankan TIDAK. Saya lebih memilih untuk memaknai korupsi secara lebih luas.

 

Mari belajar! Pertama, korupsi waktu. Mari kita ingat, seberapa sering kita datang tepat waktu saat berangkat kerja, berangkat sekolah atau kuliah, atau bahkan saat punya janji dengan orang lain. Sering sekali kita jumpai janji dengan orang lain pukul sekian tetapi baru datang jangankan menit tapi bisa jadi malah datang sejam atau beberapa jam kemudian. Yakin selalu on time? Mari kita berkaca!

 

Kedua, korupsi materi. Mari kita ingat, mungkin salah satu dari kita pernah diminta ibu kita untuk membeli sesuatu di warung. Uang kembalian masuk kantong pribadi dan laporan kepada  ibu bahwa tidak ada sisa. Selain itu, mungkin kita juga pernah kehabisan uang atau lupa tidak membawa uang lebih tetapi ingin membeli sesuatu dan pada akhirnya meminjam uang kepada  teman kita. Lalu kita bilang kepada teman kita, “Pinjem duitmu dulu, ya. Besok kubalikin”. Nah, pernah, kan, kita lupa untuk mengembalikan? Pasti ada yang pernah melakukan (walaupun sampai sekarang masih lupa, hehehe). Masih banyak contoh yang lain. Yakin belum pernah melakukan korupsi model ini? Mari kita berkaca!

 

Ketiga, korupsi kata. Menurut hemat saya, korupsi kata hampir mirip dengan berbohong. Artinya, memotong sejumlah kata dari seluruh kalimat yang seharusnya dikatakan kepada orang lain. Bagi yang sudah berkeluarga, mungkin pernah dengan sengaja atau tidak sengaja mengatakan yang tidak sebenarnya kepada anaknya dengan alasan agar si anak tidak terlalu banyak bertanya. Mari kita ingat kembali, pernahkah kita mengkorupsi kata kepada teman, saudara bahkan orang tua kita. Yakin belum pernah melakukan? Mari kita berkaca!

 

Apa yang saya sampaikan di atas hanyalah sebagian kecil contoh korupsi yang sering kita lakukan. Masih banyak jenis korupsi lainnya. Mungkin akan saya sampaikan di lain kesempatan. Inti dari tulisan ini adalah bahwa penanganan korupsi membutuhkan waktu yang panjang dan effort yang besar. Korupsi sudah mengakar kuat dan seperti terjadi turun-temurun. Siapa sangka mereka yang saat ini melakukan korupsi dahulu mempunyai idealisme yang tinggi. Namun, karena tuntutan kebutuhan dan iming-iming materi, lalu ‘terjebak‘ melakukan korupsi. Begitu pula halnya dengan kita yang punya tingkatan idealisme masing-masing. Semua orang, termasuk kita, sesungguhnya sangat rentan terhadap tindakan korupsi.

 

Lalu bagaimana penanggulangan dan penanganan yang paling efektif? Terlepas dari kompleksitas masalah korupsi di Indonesia yang seolah sudah mendarah daging, mengakar dan turun temurun. Apakah bisa dilakukan dengan membasmi orang-orang yang terlibat tindak korupsi tersebut lalu mulai hidup baru? Sudah tentu tidak bisa. Yang paling efektif yaitu mari kita benahi dari dalam diri kita terlebih dahulu. Bisa dibayangkan bagaimana efek positifnya jika setiap orang mau memperbaiki dirinya sendiri lalu mampu memberikan contoh kepada orang lain. Mari kita coba! Sederhananya, kita belajar untuk tepat waktu terhadap apapun, tidak berbohong dalam kondisi apapun, tidak mengurangi yang menjadi hak orang lain, dan lain-lain. Artinya harus ada perbaikan manajemen waktu, manajemen diri, hingga menjaga mulut dan hati. Bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, bagaimana berani mencoba memperbaiki diri untuk dapat memberikan contoh kepada anak/ istri/ suami. Bagaimana si orang tua memberikan contoh dan pelajaran si anak menjadi titik tekan penanggulangan korupsi dalam jangka panjang (baca: pendidikan karakter/ pendidikan usia dini). Bagaimana membentuk karakter dan kebiasaan positif anak sejak dari kecil. Lebih lanjut, bagaimana penanganan korupsi jangka pendek?

Mari kita berkaca dan belajar!

 

Galih Prabaningrum

Kelas Inspirasi Dorong Semangat Siswa
Polisi Warnai Kelas Inspirasi Yogyakarta
Kelas Inspirasi Yogyakarta Tumbuhkan Semangat Belajar Anak
Kelas Inspirasi Yogyakarta di SDN Malangan