KI YogyaKI Yogya

Tag : kelas inspirasi

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta Tumbuhkan Semangat Belajar Anak

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Polisi itu keren. Kalimat itu yang terucap dari Viko Darmawan, siswa kelas VI SDN Sosrowijayan, usai mengikuti Kelas Inspirasi Yogyakarta (KIY), Sabtu (6/2/2016).

Sudah lama ia berkeinginan menjadi seorang polisi, dan baru kali ini ia bisa bertemu dan berdialog langsung dengan relawan pengajar KIY, di mana satu di antaranya memiliki profesi sebagai polisi.

“Kami dikasih tahu tentang pentingnya berlalu lintas, termasuk cara menyebrang di jalan raya harus lihat sekitar dulu dan memastikan aman, lalu boleh jalan,” ungkapnya kepada Tribun Jogja.

Aiptu Jamar, relawan pengajar KIY yang datang dari Sat Binmas Polresta Yogyakarta mengaku sangat senang bisa terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, selain memberikan pendidikan berlalu-lintas kepada anak sejak dini, KIY dinilai efektif untuk mengajak mereka meraih cita-citanya.

“Bukan hanya bercita-cita, tapi dengan datangnya relawan pengajar dari beragam profesi, membuat mereka juga tahu jalannya seperti apa agar bisa meraih cita-cita tersebut,” beber Jamar.

Misalkan saja untuk menjadi seorang polisi, imbuhnya, maka anak harus sehat, displin, pintar, gagah.

“Jadi mereka sudah bisa mengerti sejak dini. Sehingga itu modal yang bagus untuk tidak gampang terprovokasi, tidak gampang terkena narkoba, dan sebagainya,” ucap Jamar.

Sementara itu, Kepala SDN Sosrowijayan, Chatrina Siti Nur Hayati menuturkan jika KIY sangat bagus untuk anak-anak karena membuat mereka giat belajar.

“Selama ini anak-anak ketika ditanya cita-cita hanya menyebutkan profesinya, namun kali ini mereka bisa bertemu dengan relawan pengajar dengan profesi yang berbeda. Penjelasan serta cerita yang menginspirasi dari relawan, akan memacu anak-anak untuk semangat belajar dan meraih cita-citanya,” tandasnya lantas tersenyum. (tribunjogja.com)

Sumber: http://jogja.tribunnews.com/2016/02/07/kelas-inspirasi-yogyakarta-tumbuhkan-semangat-belajar-anak

By KI Yogya

Kelas Inspirasi Yogyakarta di SDN Malangan

SLEMAN (KRjogja.com) – Suasana riuh begitu terasa ketika tujuh orang dengan profesi berbeda masuk di tiap kelas SDN Malangan Moyudan Sleman. Ketujuh orang itu berprofesi sebagai polisi, radiografer, psikolog, penyelaras bahasa, editor, auditor dan animator.

Kedatangan mereka bertajuk Kelas Inspirasi (KI) yang digelar serempak pada Hari Sabtu (06/02/2016) di 24 Sekolah Dasar di Yogyakarta. Kegiatan KI kali ini sudah keempat kalinya digelar di Yogyakarta.

Diungkapkan fasilitator KI Yogyakarta, Muhammad Izzat Firdausi, kegiatan kali ini lebik unik dan beragam dibanding tahun sebelumnya. “Ada 579 pendaftar relawan pengajar dan terpilih sebanyak 247 orang. Tahun kemarin ada 335 pendaftar dan terpilih 250. Tema yang diambil sekarang adalah Negeri Serba Ada,” jelasnya.

Muhammad Izzat menjelaskan, untuk merepresentasikan tema tersebut diambil obyek Sekolah Dasar yang berdekatan dengan pasar. Sebab di pasar semua orang berbagai macam latar belakang, profesi dan jenis kelamin bertemu.

Kelas Inspirasi merupakan program dari Indonesia Mengajar. Kegiatan tersebut dilaksanakan satu hari di SD Negeri yang telah dipilih. Ratusan profesi berbagi inspirasi dengan mengajar di sekolah selama satu hari. (*34)

Sumber: http://krjogja.com/read/290039/kelas-inspirasi-yogyakarta-di-sdn-malangan.kr

By KI Yogya

427 Relawan Siap Terjun ke 24 SD di DIY

Kelas Inspirasi Yogyakarta telah dilaksanakan selama 3 tahun berturut-turut, sejak 20 Februari 2013 sampai saat ini. Kelas Inspirasi Yogyakarta telah mengunjungi dan menyapa 52 Sekolah Dasar (SD) di 4 kabupaten dan 1 kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut telah melibatkan lebih kurang 750 orang relawan yang terdiri dari relawan penyelenggara, relawan pengajar, dan relawan dokumentator (fotografer dan videografer). Dari jumlah tersebut 420 orang adalah relawan pengajar yang memiliki profesi sangat beragam, dan berasal dari berbagai wilayah dan pulau di Indonesia.

 

Tahun 2016 merupakan tahun keempat penyelenggaraan Kelas Inspirasi Yogyakarta dan akan melibatkan 427 relawan, mereka terdiri dari 247 relawan pengajar, 90 relawan dokumentator (fotografer dan videografer), serta 90 orang relawan penyelenggara yang akan disebar ke 24 Sekolah Dasar di 5 kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejumlah relawan tersebut telah terseleksi dari lebih kurang 1.000 orang pendaftar relawan penyelenggara, relawan pengajar, maupun relawan dokumentator.

 

Karina Bunga Hati selaku Koordinator Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016 menyampaikan, “Kelas Inspirasi mempunyai kriteria SD prioritas untuk dikunjungi pada Hari Inspirasi, yaitu SD marjinal yang memiliki keterbatasan akses baik informasi maupun dari segi jarak, serta kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM). Tahun ini ditambahkan kriteria sesuai dengan tema yang diangkat yaitu SD yang mempunyai keterkaitan hubungan dengan pasar, baik secara geografis maupun sosial ekonomi.”

 

Sebanyak 247 relawan pengajardari berbagai latar belakang profesi akan menyampaikaan mengenai pekerjaannya. Beberapa contoh profesi dari relawan pengajar tahun ini antara lain animation illustrator, enumerator, polisi, pendongeng, guru yoga anak, penyuluh narkoba, dokter hewan, diplomat, dan lain-lain.Penempatan relawan pengajar ke 24 Sekolah Dasar terpilih dilakukan melalui beberapa pertimbangan antara lain bidang profesi pekerjaan yang disesuaikan dengan minat/karakter/kondisi sekolah, serta domisili relawan pengajar itu sendiri denganharapan akan ada follow up atau kegiatan berkelanjutan antara relawan dengan pihak sekolah. Karina menambahkan, “Harapannya dari penyelenggaraan KIY tahun ini adalah semakin banyak instansi yang akan ikut berkontribusi terhadap kegiatan volunteer, serta relawan yang akan terus bergerak secara berkala pasca Hari Inspirasi, menerapkan salah satu prinsip KI yaitu bersilaturahmi dengan pihak sekolah.”

 

Di tahun 2016 Kelas Inspirasi Yogyakarta mengusung sebuah tema “Kelas Inspirasi Yogyakarta di Negeri Serba Ada”. Tema ini diusung dalam rangka memberikan warna ke-Bhinekaan yang dimiliki Indonesia, beragam potensinya, namun sekaligus beragam pula masalah dan tantangannya. Secara spesifik pula di tahun 2016 ini tema di Negeri Serba Ada tersebut dijabarkan dengan strategi pemilihan sekolah yang berdekatan dan atau memiliki pengaruh dengan keberadaan “pasar” tempat terjadinya interaksi ekonomi , sosial, dan budaya yang serba ada sebagaimana tema di atas.

 

Narasumber: RelawanPenyelenggaraKelasInspirasi Yogyakarta 2016

 

Web                      : www.kelasinspirasiyogyakarta.org

E-mail                   : [email protected]

Facebook            : Kelas Inspirasi Yogyakarta

Twitter                  : @KI_Yogya

Instagram            : @KI_Yogyakarta

Contact Person   :

Koordinator Umum KIY 2016: Karina B.       : +62 818-0872-5565

Koordinator Divisi Acara         : Fatimah N.   : +62 858-6807-0049

Publikasi                                      : Adityo R.       : +62 813-2773-1303

By KI Yogya

Terima Kasih, Pengajar

“Dia mengajar di HIS (Hollandsch-Inlandsche School)—sekolah khusus bumiputer, sekarang setara SD—Muhammadiyah di Cilacap. Dia juga giat di kepanduan Hizbul Wathan. Maklumlah, Sudirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang menanamkan nasionalisme tinggi. Kemudian ia melanjukan pendidikannya ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah di Solo.”

*

“Akhirnya tahun 1911, Agus Salim pulang ke Indonesia. Kepulangannya dari Tanah Suci ini boleh dikatakan sebagai titik tolak perjuangannya melawan Belanda. Agus Salim sempat bekerja pada dinas pekerjaan umum. Namun, ia keluar dari birokrasi Belanda dan mendirikan sekolah swasta di kampungnya di Kota Gadang. Hal ini dilakukannya hanya sebentar, Agus Salim kemudian berangkat lagi ke Jakarta, selanjutnya terjun ke dunia politik.”

*

“Salah satu trilogi HOS Tjokroaminoto yang termasyhur adalah ‘Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat’. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno. Pesannya kepada murid-muridnya ialah “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator“. Perkataan ini membius murid-muridnya hingga membuat Soekarno setiap malam berteriak belajar pidato hingga membuat kawannya; MusoAliminKartosuwiryoDarsono, dan yang lainnya terbangun dan tertawa menyaksikannya.”

*

“Dia memberikan latar belakang bagaimana peristiwa sejarah tersebut bisa terjadi. Dengan dibumbui gaya orasinya yang khas, ia mendramatisir pelajaran sejarahnya seperti sebuah adegan sandiwara. Menggerak-gerakkan tangan, melotot, berteriak, memukul meja, dan sebagainya untuk mendramatisir tokoh yang ia kisahkan. Soekarno memang minim metode dalam pengajaran sejarah, tapi ia benar-benar guru sejarah yang penuh percaya diri dan disukai anak didiknya.”.

Empat paragraf di atas menceritakan empat kisah berbeda dengan banyak kesamaan. Mereka adalah pengajar secara formal dan professional yang sebenarnya. Ya, mereka menjadi guru yang mengajar di depan murid-muridnya sebelum menjadi ‘agen’ dari kemerdekaan negeri ini. Mereka adalah Soedirman, Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan Soekarno.

Ini belum termasuk para penggerak negeri ini yang benar-benar terjun sebagai pendidik negeri ini sebagai seorang pendidik, seperti Ki Hajar Dewantara,  KH Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Kartini dan banyak lagi.

Kembali ke empat tokoh pertama yang saya sebutkan. Nama mereka harum karena usaha dan pemikiran mereka menjadi sumbangsih yang tak ternilai negeri ini. Dalam pemikiran saya secara pribadi, sepertinya jelas sekali menjadi seorang pengajar dan pendidik telah mempengaruhi cara ketiga tokoh dalam mengambil keputusan, cara mereka memimpin, cara mereka menyelasaikan permasalahan dan cara mereka berdiplomasi.

Mereka sudah megetahui kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bagi mereka yang terdidik dan terpelajar. Seperti cara Jendral Soedirman menjadi seorang komandan yang tidak pernah menganggap subordinate-nya sebagai bawahan, namun beliau melihat seperti dulu mengajar di sekolah, melihat pasukanya sebagai teman dan murid yang perlu dibimbing. Caranya lebih kepada mengarahkan daripada memerintah. Dengan cara yang baik rasa hormat pun muncul dari kalangan militer saat itu. Panglima tertinggi bangsa inipun dahulu pernah merasakan menjadi Guru.

Lalu pemikiran saya melayang bagaimana seorang Agus Salim yang sangat fasih sembilan bahasa menantang Volkaard, Dewan Kerajaan Belanda dengan cara menyampaikan pidato dalam bahasa Indonesia dimana Volkaard meganggap Bahasa Indonesia/bahasa melayu adalah bahasa yang tabu di forum itu. Sebelumnya beliau juga telah merintis sekolah dan menjadi guru di tanah kelahirannya.  Beberarapa negarawan negeri inipun seperti Hatta, Muhammad Roem, Kasman Singodimejo tidak ragu-ragu untuk menyebutnya sebagai mentor, guru, dan penasehat. Tidak salah apabila beliau di juluki The Grand Old Man. Diplomat ulung yang sangat ditakuti Belanda pada masa itu juga telah mencicpi rasanya menjadi seorang guru dan terus menjadi seorang pendidik.

Tulisan ini adalah bentuk apresiasi saya kepada relawan Kelas Inspirasi Yogyakarta yang telah mendaftar. Mengesampingkan semua kemungkinan motif yang dibawa para relawan dalam proses pendaftaran Kelas Inspirasi Yogyakarta. Bahwa para pendiri negeri ini adalah pengajar dan pendidik yang tidak memiliki keraguan akan pentingnya pendidikan. Saya meyakini KIY ini akan menjadi kesempatan untuk menciptakan kebaikan pada semua yang terlibat didalamnya.

 

Budyanung Anindita

 

By KI Yogya

Makrab KIY 2016

Akhir pekan kemarin melelahkan. Otak, badan dan perasaan rasanya diperas habis. Ning yo kok isih betah. Selalu begitu setiap kali ikut serta dalam kegiatan volunteerism. Jelas, bukan sekali-dua saya merutuki diri sendiri. Bertanya untuk apa dan demi siapa saya pergi menembus hujan ketimbang memeluk guling, balutan hangat selimut sambil menyeruput secangkir cokelat hangat di rumah. Ada acara yang harus dihadiri: MAKRAB KIY 2016.

Pelan-pelan, saya menuju selatan Jogja. Selain karena jalanan yang licin, lalu lintas hari itu padat. Kemungkinan besar, pada hari itulah orang-orang merayakan kebersamaan mereka bersama keluarga. Di satu perempatan, lampu merah masih akan menyala selama hampir satu menit ke depan. Saya hanya bisa menatap iri ke sebuah mobil yang semua kursinya penuh terisi. Dari balik kaca, saya bisa lihat seseorang memegang sebuah foto. Foto mereka—para penumpang mobil—dengan latar Candi Prambanan. Foto khas liburan keluarga: sang ayah berdiri tegap; ibu, tante, dan nenek bergaya dengan topi super lebar yang baru saja dibeli dari penjual kelililing; adik laki-laki yang mengacungkan salam tiga jari serta kakak perempuan yang tersenyum malu-malu. Tiba-tiba klakson dari motor di belakang saya berbunyi keras. Sudah lampu hijau. Waktunya berlalu melanjutkan perjalanan.

“Sendirian mungkin memang lebih cepat, tetapi bersama-sama akan membawamu pergi lebih jauh.”

Saya kira, benarlah adanya kalimat itu. Lebih baik pergi beramai-ramai ketimbang linglung sendiri di jalan. Apalagi saya sudah terlambat dan siang sudah berganti malam. Berangkatlah saya malam itu bersama Daimas, Mbak Galih, Eno, Aji, Diah, dan Nadia. Saya benar-benar tidak menyesali keputusan itu, karena kabar baiknya, yang saya khawatirkan terjadi. Kami nyasar. Ada kesimpangsiuran petunjuk arah lokasi makrab di grup WhatsApp kami. Biasalah. Selain karena google Maps yang sering geseh, sebab lainnya adalah grup ini memang sangat ramai. Obrolannya bisa mencapai ribuan hitungan. Informasi penting dan sangat penting saling bersahut-sahutan. Memang, diperlukan niat yang teguh untuk memilah keduanya.

Untungnya, tidak perlu waktu yang lama untuk kembali ke jalur yang semestinya. Kami hanya perlu bertanya sekali kepada penduduk setempat, seorang gadis yang ramah dan berbaik hati menjelaskan detail daerah Pundong, yang sebenarnya sedikit sia-sia karena kemampuan navigasi saya menumpul di malam hari. Kami memutar arah, berbalik menuju utara sejauh 5 KM karena jebulnya kami kebablasen. Sebuah penyebab klise bagi orang-orang yang nyasar.

Kami tiba di lokasi yang ditentukan. Sebuah rumah besar yang di halamannya ada banyak pohon pisang dan di dalamnya sudah berkumpul banyak orang. Sekilas tampak begitu serius, tetapi perhatian mereka terpecah karena kedatangan kami. Masih kedinginan, lapar dan semacam jetlag, kami berusaha menyesuaikan diri dengan kerumunan. Yang jelas, senyuman orang-orang yang hadir sebelum kami tidak tampak menghakimi. Semua maklum dengan kesibukan masing-masing. Bahkan, berlanjut pula dengan sapaan dan canda usil yang begitu akrab. Hangat. Semakin hangat dan nyaman dengan hidangan nasi kotak dan secangkir teh. Meskipun demikian, harus saya akui bahwa suasana semacam ini tentu memiliki efek samping. Kantuk menyerang. Lagi-lagi saya menggerutu. Sementara pertemuan masih berlangsung. Kalau mau tidur, ya, jelas pekewuh. Lagipula, sudah jauh-jauh mosok saya tinggal tidur. Cemilan menjadi pelampiasan saya untuk mengembalikan semangat. Tetapi, efeknya hanya sesaat. Di saat itulah saya menyadari bahwa cara terbaik adalah dengan ikut berdiskusi. Tertinggal sekian jam pembahasan tidak masalah, karena ada notulensi yang disorotkan LCD seadanya pada dinding rumah.

Pembicaraan yang disimak baik-baik akan selalu menjadi hal yang menarik. Bergantian, pendapat teman-teman bergulir. Sesekali beriringan, sesekali beradu sudut pandang. Saya ikut angkat tangan, mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan hal-hal yang saya perhatikan. Rasanya menyenangkan. Lega, karena kerumunan ini bisa mendengarkan dan memberikan tanggapan. Tidak ada yang benar-benar salah dan tidak ada yang sepenuhnya benar. Yang penting, kita paham tentang apa dan mengapa kita melakukan sesuatu. Malam itu saya belajar tentang memahami tujuan, baru kemudian menentukan langkah yang akan ditempuh. Belajar bersepakat. Belajar bersemangat.

Semangat ini tampaknya adalah sumber energi yang melimpah. Terlebih pertemuan ini diakhiri dengan kado silang. Kali ini saya dapat gelas. Lagi. Alhamdulillah, tiap kali ikut kado silang, hampir selalu dapat gelas. Terima kasih, ya, wahai kamu, siapapun engkau yang menghadiahi saya sebuah gelas imut berwarna hijau. Selepas pertemuan, banyak orang masih berkumpul membuat kerumunan baru yang lebih kecil. Ada yang baru kenalan. Ada yang bernyanyi-nyanyi. Ada yang bercanda-canda. Ada yang bersiap-siap untuk agenda Minggu pagi. Ada juga yang menempatkan diri mencari-cari posisi tidur terbaik. Pokoknya, kami diberitahu untuk bertemu lagi jam setengah enam pagi.

Demikianlah, malam berlalu dengan cepat. Kami beruntung. Hari Minggu ini begitu cerah. Pagi menjelang dan rumah ini sudah ramai kembali. Berbanding terbalik dengan kondisi grup WhatsApp yang sepi. Kerumunan ini sedang merayakan kebersamaannya. Bukan tersenyum-senyum membaca kutipan legendaris dengan hiasan emoticon. Kali ini gelak tawanya begitu nyata. Apalagi, seluruh anggota badan ikut bergerak. Tidak hanya jempol yang biasanya keju mergo nyecroll chat seko ngisor menduwur.

Setelah selesai senam pagi dan sarapan, kami belajar materi ice breaking dari Mbak Hilmi. Kali ini esnya benar-benar pecah. Hancur. Pergi sajalah itu ‘canggung’ atau ‘sungkan’ disapu suara sopran Mbak Hilmi. Saya cenderung mengamati sekeliling ketika materi disampaikan. Seringkali, saya menemukan hal yang sangat memorable. Totalitas Mbak Galih menarikan ‘Making Melody in My Heart’ adalah salah satunya. Sama gemasnya ketika mengamati panda yang didokumentasikan Ami Vitale di instagramnya.

Hari beranjak siang, sebelum kami pergi outbound sesuai rencana, para fasilitator diminta untuk melakukan simulasi technical meeting. Ada yang berperan sebagai relawan pengajar, fotografer, videografer, pihak sekolah, dan tentu saja fasilitator. Simulasi berjalan alot di kelompok saya, karena kami terlalu menghayati karakter relawan pengajar fiktif yang kami ciptakan. Setidaknya, sudah ada bayangan bahwa kami harus siap dan berusaha diplomatis jika pertanyaan maupun permintaan para relawan pengajar mulai melenceng dari jalur yang ditentukan.

Tibalah waktunya memulai kegiatan terakhir hari itu: outbond. Konsepnya hampir selalu sama. Semua diawali dengan pembentukan kelompok dan tentu saja penciptaan yel-yel. Yang berbeda tentu saja dengan siapa kamu melakukannya. Bisa krik-krik-krik-garing, bisa juga super-duper-gayeng. Selanjutnya, tempat yang akan kami dituju ada di sekitar pantai. Petunjuknya hanya sepotong kalimat: ketajaman yang nikmat dan enak. Apa coba? Sate? Tusuknya tajam, to? Parangendog? Parang– pedang pastilah tajem, endog-telur-enak. Oke, abaikan terjemahan sesat itu. Duren? Bisa jadi, bisa jadi…dan ternyata memang betul. Tetapi, pada akhirnya ada tambahan petunjuk dari Divisi Acara, sang penanggung jawab kegiatan. Ho, ho, ho.

Outbond kami berakhir di tepi Pantai Parangkusumo. Selama perjalanan, kami jadi bisa mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Belum lagi puluhan kali selfie, wefie dan groupfie yang tercipta. Saya jadi ingat foto keluarga yang saya lihat di perempatan kemarin. Saya punya lebih banyak foto. Baik yang terekam di memori handphone dan kamera, juga dalam ingatan saya sepanjang hari itu. Ada keluarga besar yang membersamai saya di sini: ada bapak-bapak, ibu-ibu, beberapa tante yang cerewet tapi baik hatinya, sejumlah om-om hobi foto, belasan mbak-mbak dan mas-mas relawan profesional dan dokumentator yang penuh semangat, puluhan sepupu yang selo, juga ratusan adik-adik SD yang akan kami temui di Hari Inspirasi.

Terima kasih, Kelas Inspirasi Yogyakarta.

 

Diyan Zahro

1 2 3 4
Kelas Inspirasi Yogyakarta Tumbuhkan Semangat Belajar Anak
Kelas Inspirasi Yogyakarta di SDN Malangan
427 Relawan Siap Terjun ke 24 SD di DIY