KI YogyaKI Yogya

Tag : kelas inspirasi

By KI Yogya

KUDAPAN SARU

Eeeeiiittss, dilarang keras membayangkan yang tidak-tidak apalagi yang iya-iya. Kudapan saru maksudnya kumpul dengan panitia (di) Sabtu seru. Layaknya makanan kudapan yang rasanya enak, membuat orang yang memakannya tidak bosan. Begitu pula dengan Sabtu sore, dua hari yang lalu, walaupun telat datang, bukan cacian atau kata-kata sindiran yang keluar. Senyum. Iya senyum. Sambutan hangat yang ditujukan padaku dan teman-teman yang baru datang layaknya udara yang menghangatkan di saat badan kuyup kedinginan.

 

Bagiku, Sabtu sore waktu itu bukan hanya sekedar malam keakraban biasa yang tujuannya saling mengakrabkan satu sama lain antarpanitia. Aku menyebutnya sa(btu) s(er)u yang mengobati kerinduanku terhadap proses belajar menjadi manusia yang peka terhadap diri sendiri, orang lain, ataupun lingkungannya. Bahagia rasanya, satu atap bersama untuk belajar materi menjadi fasilitator, simulasi untuk TM (technical meeting), mendengarkan pendapat teman yang lain, juga saling mengevaluasi dan memberikan masukan. Tidak ada yang lebih pintar, semuanya sama rata.

 

Ketika senam pagi sampai sesi ice breaking, semua orang sangat luar biasa. Bahkan saat diberikan waktu 10 menit untuk membuat ice breaking secara mendadak. Banyak ide yang keluar dan itu luar biasa (pada saat yang bersamaan Seksi Acara sedang berembug serius di ruangan berbeda, mungkin sedang menyiapkan kejutan untuk kita). Dan benar, kejutan di hari Minggu dimana matahari sangat tidak bersahabat untuk melakukan outbond yang membuat berat badan saya berkurang 7 ons. Tetapi tak masalah, hanya ucapan terima kasih yang bisa terlontar kepada teman-teman yang telah merelakan waktunya untuk makrab di saat bisa bobok manis dan lucu di rumah.

 

Makrab ini sebenarnya bukan hanya tentang aku, kamu, dia, kalian, atau mereka. Ini adalah tentang kita yang berproses bersama. Saling belajar mengenal dan memahami satu sama lain. Ini bukan masalah siapa yang tumbang duluan atau berniat berhenti, karena seleksi alam itu pasti. Tetapi ini tentang keyakinan bahwa kita dibutuhkan dan bermakna.

 

Dan terakhir:

Jika di luar sana sedang hujan deras, coba lihatlah dan hitung setiap tetesan air yang jatuh. Banyak sekali bukan? Dan tahukah kalian, sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenal kalian di Kelas Inspirasi Yogyakarta 4 ini.

 

Terima kasih telah membuat bahagia.

 

Terima kasih sudah mau berproses bersama.

 

Siti Nur Hilmi

By KI Yogya

Makrab Hangat

 

 

Ada sebuah keluarga baru di hidupku. Keluarga baru dari Kelas Inspirasi Yogyakarta, bersama dengan kehangatan kasih sayangnya. Lengkap dengan tawa dan amarahnya, komplit dengan sejuta pelajarannya.

 

Malam itu jadi momen spesial kami, bersama sejak petang hingga siang. Ngobrol banyak hal tentang pengalaman dan pembelajaran. Dimulai dari Tim Acara yang selalu gercep (gerak cepat) mempersiapkan sesuatu, facilitator the big family di antara kami semua sampai-sampai sangat sulit untukku mengenal satu satu dari mereka, lanjut ke Tim Rekrutmen yang lagi tegang di masa open recruitment-nya, Tim Dokumentasi yang selalu setia mengabadikan momen berharga kami dalam sebuah bingkai foto, hingga Tim Publikasi tersayang yang terjaga kerempongan dan kekompakan dalam setiap event-event KIY, dan spesial buat Memi—sang ibu peri—yang selalu kelihatan kalem di setiap momen, Pak Wijang yang tetap terlihat semangat di antara anak-anak muda di sini, Mas Arif yang paling jeli mengevaluasi kami, Mbak Hilmi  yang sudah memberikan banyak ilmu secara cuma-cuma dengan suaranya yang tanpa microphone pun sudah terdengar sampai penjuru negeri, Mbak Diyan yang selalu sabar menunggu notulensi kami dan menuliskannya kembali, Bendahara dan Tim Merchandise yang kreatif dan jadi kepercayaan kami. Kita semua berkumpul bersama dalam hangatnya Makrab KIY 2016. Di sebuah rumah sederhana di dekat pantai dengan suasana yang penuh keakraban.

 

Pantai Parangkusumo dan Gumuk Pasir-nya menjadi saksi pengakraban kami kali ini. Yang semula aku sulit menghafal nama dari fasilitator atau bahkan aku lupa dengan wajahnya,  sekarang di pantai itu kami semua sudah saling mengenal dan semakin dekat dan hangat.  Teriknya matahari tak mampu mengalahkan ekspresi bahagia kami. Hmm, bagaimana tidak? Bayangkan seorang Kadit saja memakai daster layaknya emak-emak hendak ke pasar dan dengan kerendahan hatinya mengumpulkan sampah di pantai, hahaha.

 

Bahagia itu sederhana. Dengan hanya bersama Kelas Inspirasi Yogyakarta saja, saya bahagia.

 

 

Sotya Ajeng

By KI Yogya

Tak Sekedar Riuh Berkerumun

 

Beberapa waktu yang lalu, mencuat berita di berbagai media tentang kondisi Paris yang mencekam akibat penembakan dan pengeboman yang terjadi di beberapa penjuru kota yang menjadi kiblat mode dunia tersebut. Terlepas dari isu terorisme, saya tertarik mengamati adanya hashtag #PorteOuverte di twitter. Hashtag tersebut dicuitkan sebagai clue oleh warga Paris untuk memberi tempat berlindung/menginap bagi orang-orang yang merasa panik dan takut, serta tak bisa segera pulang ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Gerakan via media sosial ini kemudian mengingatkan saya pada revolusi yang terjadi di Mesir beberapa tahun yang lalu. Konon, yang terjadi di Mesir bermula dan menguat via media sosial, twitter sebagai platform utama yang digunakan.

Sebenarnya sebelum Mesir, Tunisia lebih dulu menggunakan media sosial sebagai wadah untuk penggalangan massa. Kala itu facebook menjadi basis ruang untuk diskusi dan koordinasi. Apa yang terjadi? Rezim Ben Ali yang puluhan tahun menguasai Tunisia pun tumbang.

Media sosial yang awalnya disediakan untuk interaksi dengan kerabat dekat, memang akhirnya menjadi sarana untuk menyuarakan opini publik.

Sampai kapan model seperti ini akan terjadi?

Awal November lalu saat ke Bali saya mendapat bocoran dari Mas Isjet—content assistant manager Kompasiana—yang menyatakan bahwa diprediksikan tren social media pada 2016 tidak lagi bicara jenis platform, tetapi lebih pada kurasi konten.

Walaupun seorang teman—yang menjadi punggawa gerakan online pemenangan calon presiden di Jakarta—pernah bilang bahwa masanya konten sudah lewat dan akan bergeser ke arah konteks, tetapi menurut saya memang quote Bill Gates yang menyatakan bahwa ‘content is the king’ mungkin masih berlaku untuk beberapa tahun ke depan.

Silahkan kita tengok, kekuatan media sosial mungkin dijadikan sebagai senjata utama oleh KI (Kelas Inspirasi) di berbagai tempat untuk menyuarakan aktivitasnya. Bisa kita cek via platform media sosial yang sudah mainstream; pada saat hari inspirasi berlangsung, beragam posting tentang kegiatan KI langsung riuh memenuhi timeline.

Kini setelah aplikasi messager begitu massive diunduh dan dipasang di telepon pintar, kerumunan kemudian lebih terwadahi pada grup-grup kecil. Awalnya memang diniati untuk memudahkan koordinasi. Namun tak jarang, isi obrolan akan dipenuhi tentang bagaimana memecahkan masalah baik dalam tataran konsep maupun teknis, hingga ke perbincangan renyah out of topic, kegalauan di malam minggu, bahkan karaoke.

Pada akhirnya, grup pada aplikasi messager begitu riuh, apalagi jumlahnya bisa lebih dari satu, meskipun orang-orangnya ya hanya itu-itu melulu.

Dari beragam kasus yang saya saksikan, rasanya perlu untuk kembali mempertanyakan, sebenarnya apa tujuan dari kerumunan yang telah kita bentuk bersama?

Secara mendasar, saya masih ingat bahwa tujuan KI salah satunya adalah mengajak berbagai pihak untuk turut serta iuran dan berkontribusi mengurusi pendidikan negeri ini.

Apakah tujuan ini telah tercapai? Siapa saja yang sudah terlibat? Apa saja yang mereka lakukan? Apakah keriuhan yang dilakukan berpengaruh terhadap pengambil kebijakan? Seberapa jauh resonansi gerakan menginspirasi sehari ini?

Jika dilihat secara kasat mata, kekuatan jemari kita yang begitu lihai saat chatting di ruang-ruang aplikasi messager demikian besar. Sungguh dahsyat jika ratusan chat dalam hitungan jam dikonversi menjadi beragam aktivitas yang berdampak pada semesta yang lebih luas.

Bersyukurlah Kelas Inspirasi Yogyakarta telah mempunyai rumah baru di dunia maya. Layaknya rumah, akan lebih membetahkan jika segenap perabotan di rumah telah tersedia. Apalagi, dilengkapi dengan sejenis penghias yang memanjakan mata.

Maka, beranikah kita menghias rumah kita di www.kelasinspirasiyogyakarta.org dengan beragam kata-kata yang selama ini hanya terlontar di ruang-ruang aplikasi messager? Apakah keriuhan kita saat berkerumun bisa disusun dalam bentuk kalimat yang bisa tersebar ke berbagai penjuru untuk menggemakan gerakan pendidikan di Indonesia?

 

Kakang Prabu

By KI Yogya

Memandang Kelas Inspirasi

 

Bagaimana kita melihat KI? Apakah KI adalah sebuah rangkaian, proses, atau hasil? Setidaknya jawaban kita tergantung dari sisi mana kita memandang.

 

KI mungkin telah ingar-bingar dan tersebar gaungnya di berbagai penjuru negeri. Pola telah terbentuk, simpul-simpul telah ditemukan. Garis kegiatan pun sudah mafhum dilakukan di beberapa regional. Di Jogja, sudah tiga kali KI diselenggarakan. Bahkan, KI sudah berkembangbiak melahirkan beberapa kegiatan-kegiatan turunan yang diprakarsai oleh orang-orang yang awalnya dipertemukan melalui KI.

 

Kemudian terpikirkan, apakah betul bahwa kita semua sudah siap untuk berpikir lebih luas dan berlari lebih jauh? Jika mindset KIY bukan lagi sebagai kepanitiaan (yang ketika acara selesai diselenggarakan panitianya dibubarkan), menjadi sebuah kepengurusan (yang memiliki program dan kegiatan secara terstruktur) berarti semangatnya bukan lagi sprint, melainkan marathon.

Aapa yang kita lihat saat memandang KIY ke depan? Akan ada apa saja turunan dari aktivitas KIY? Apakah berupa program kerja? Beragam kegiatan? Apa saja? Apakah perlu merumuskan tema besar secara periodik?

 

Kemudian, apakah KIY sesuai dengan ekspektasi kita?

Terakhir, KIY mau dijadikan seperti apa?

Komentar mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas, maupun curhatan mengenai Kelas Inspirasi Yogyakarta telah terkompilasi dan dapat diunduh di sini.

 

 

1 2 3 4
Tak Sekedar Riuh Berkerumun
Memandang Kelas Inspirasi