Tak Sekedar Riuh Berkerumun

Tak Sekedar Riuh Berkerumun

Tak Sekedar Riuh Berkerumun

Beberapa waktu yang lalu, mencuat berita di berbagai media tentang kondisi Paris yang mencekam akibat penembakan dan pengeboman yang terjadi di beberapa penjuru kota yang menjadi kiblat mode dunia tersebut. Terlepas dari isu terorisme, saya tertarik mengamati adanya hashtag #PorteOuverte di twitter. Hashtag tersebut dicuitkan sebagai clue oleh warga Paris untuk memberi tempat berlindung/menginap bagi orang-orang yang merasa panik dan takut, serta tak bisa segera pulang ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan diri.

Gerakan via media sosial ini kemudian mengingatkan saya pada revolusi yang terjadi di Mesir beberapa tahun yang lalu. Konon, yang terjadi di Mesir bermula dan menguat via media sosial, twitter sebagai platform utama yang digunakan.

Sebenarnya sebelum Mesir, Tunisia lebih dulu menggunakan media sosial sebagai wadah untuk penggalangan massa. Kala itu facebook menjadi basis ruang untuk diskusi dan koordinasi. Apa yang terjadi? Rezim Ben Ali yang puluhan tahun menguasai Tunisia pun tumbang.

Media sosial yang awalnya disediakan untuk interaksi dengan kerabat dekat, memang akhirnya menjadi sarana untuk menyuarakan opini publik.

Sampai kapan model seperti ini akan terjadi?

Awal November lalu saat ke Bali saya mendapat bocoran dari Mas Isjet—content assistant manager Kompasiana—yang menyatakan bahwa diprediksikan tren social media pada 2016 tidak lagi bicara jenis platform, tetapi lebih pada kurasi konten.

Walaupun seorang teman—yang menjadi punggawa gerakan online pemenangan calon presiden di Jakarta—pernah bilang bahwa masanya konten sudah lewat dan akan bergeser ke arah konteks, tetapi menurut saya memang quote Bill Gates yang menyatakan bahwa ‘content is the king’ mungkin masih berlaku untuk beberapa tahun ke depan.

Silahkan kita tengok, kekuatan media sosial mungkin dijadikan sebagai senjata utama oleh KI (Kelas Inspirasi) di berbagai tempat untuk menyuarakan aktivitasnya. Bisa kita cek via platform media sosial yang sudah mainstream; pada saat hari inspirasi berlangsung, beragam posting tentang kegiatan KI langsung riuh memenuhi timeline.

Kini setelah aplikasi messager begitu massive diunduh dan dipasang di telepon pintar, kerumunan kemudian lebih terwadahi pada grup-grup kecil. Awalnya memang diniati untuk memudahkan koordinasi. Namun tak jarang, isi obrolan akan dipenuhi tentang bagaimana memecahkan masalah baik dalam tataran konsep maupun teknis, hingga ke perbincangan renyah out of topic, kegalauan di malam minggu, bahkan karaoke.

Pada akhirnya, grup pada aplikasi messager begitu riuh, apalagi jumlahnya bisa lebih dari satu, meskipun orang-orangnya ya hanya itu-itu melulu.

Dari beragam kasus yang saya saksikan, rasanya perlu untuk kembali mempertanyakan, sebenarnya apa tujuan dari kerumunan yang telah kita bentuk bersama?

Secara mendasar, saya masih ingat bahwa tujuan KI salah satunya adalah mengajak berbagai pihak untuk turut serta iuran dan berkontribusi mengurusi pendidikan negeri ini.

Apakah tujuan ini telah tercapai? Siapa saja yang sudah terlibat? Apa saja yang mereka lakukan? Apakah keriuhan yang dilakukan berpengaruh terhadap pengambil kebijakan? Seberapa jauh resonansi gerakan menginspirasi sehari ini?

Jika dilihat secara kasat mata, kekuatan jemari kita yang begitu lihai saat chatting di ruang-ruang aplikasi messager demikian besar. Sungguh dahsyat jika ratusan chat dalam hitungan jam dikonversi menjadi beragam aktivitas yang berdampak pada semesta yang lebih luas.

Bersyukurlah Kelas Inspirasi Yogyakarta telah mempunyai rumah baru di dunia maya. Layaknya rumah, akan lebih membetahkan jika segenap perabotan di rumah telah tersedia. Apalagi, dilengkapi dengan sejenis penghias yang memanjakan mata.

Maka, beranikah kita menghias rumah kita di www.kelasinspirasiyogyakarta.org dengan beragam kata-kata yang selama ini hanya terlontar di ruang-ruang aplikasi messager? Apakah keriuhan kita saat berkerumun bisa disusun dalam bentuk kalimat yang bisa tersebar ke berbagai penjuru untuk menggemakan gerakan pendidikan di Indonesia?

 

Kakang Prabu

KI Yogya