Sabtu kemarin dimulai tidak begitu pagi olehku. Fajar sudah melesat jauh meninggalkan cakrawala. Mengerjakan sesuatu hingga jauh lewat tengah malam membutuhkan kompensasi istirahat bagi tubuh sedikit lebih lama.

Malam sebelumnya aku diajak chatting sama Kakang Prabu saat sedang asyik mengolah foto, beliau bertanya apakah aku selo? Tak jawab bentar lagi selo setelah selesai ngedit. “Yes“, jawabanku berbalas chat tersebut, maka beliau mengusulkan membuat slide show foto-foto kegiatan yang sudah dilalui Panitia Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016. Beri sedikit musik, jederslide show tersebut bisa jadi flashback sekaligus refleksi pencapaian bagi teman-teman panitia katanya. Aku menyetujui dan bilang akan membuatnya setelah selesai mengedit foto.

Kisah berlanjut dan tantangan diterima. Duh dek…ternyata ketika awal-awal pembentukan panitia KIY 2016 aku sedang ada kegiatan dan belum mempunyai file-file foto tersebut. Imam dan Aditndut kemudian menjadi target operasi meminta file foto. Adit memberi respon oke dan terima kasih kepada para chef teknologi, berkat resep anda, puluhan file foto bisa berpindah dalam waktu singkat.

Singkat cerita foto terkumpul dan saatnya merangkai kumpulan foto ini ke dalam satu gerbong panjang kenangan jika kita melihatnya dari mata para romantis, tetapi aku lebih suka menganggapnya sejarah karena di KIY kita diajarkan untuk selalu optimis. Sesungguhnya kegiatan paling berdarah-darah bagi tukang foto atau tukang video itu adalah saat editing. Tetapi agar tidak mengganggu mood baca teman-teman, mari kita kembali ke Sabtu pagi yang kini telah ditemani secangkir besar kopi dan sebagian hasil editan slide show semalam. Ternyata masih sebagian, kita lewati saja lagi.

*

Belum lama menyesap kopi, chat group KI Yogyakarta 2016 #4 sudah ribut lagi dan aku teringat hari ini berjanji mengantar Hilmi dan Aji, para Fasil SD Nglegi 2 untuk mengantar Surat pemberitahuan sekolah yang terpilih sebagai lokasi KIY beserta MoU, dan lain sebagainya. Jalan menuju SD Nglegi 2 cukup seru, asri, dan menantang, selalu ada waktu untuk perjalanan seperti ini. Keseruan perjalanan, kesegaran udara dan keramahan penduduk serta guru selama mengantarkan surat akan aku simpan agar siapapun nanti yang ingin terlibat untuk menindaklanjuti KIY di SD Nglegi 2 bisa merasakannya sendiri, dengan adrenalin dan indra perasa masing-masing.

Kembali ke Jogja namun dicegat mendung tebal dan hujan. Angkringan dengan gorengan yang hangat serta sambel segar yang merangsang penciuman juga pedas perlu mendapat tempat di tulisan ini. Makrab dimulai lebih awal di kaki Gunung Api Purba Nglanggeran. Hujan adalah saat tepat berbagi kisah, apalagi ditemani kopi dan cemilan hangat.

Perjalanan kembali ke Jogja terasa sedikit lama, lalu lintas selepas hujan memang selalu aneh. Kembali pada slideshow yang minta dijamah membuat waktu berlari lebih cepat dari biasanya walaupun diluar hujan turun lamat-lamat, seakan sungkan menyapa bumi. Oke selesai! Slide show ini membawa makrabku dimulai lebih jauh dari sekarang, kepada wajah-wajah yang belum pernah ditemui, juga pada semangat-semangat yang masih malu-malu untuk menggelora.

Berangkat ke Pundong di tepi jalan Paris km 18 atau sekitarannya, makrab berlangsung tenang, tiada keramaian layaknya makrab yang lain padahal malam belum lagi memuncak. Rupanya, ada hal penting yang dibicarakan. Jika kemudian ada teman yang mengaku tertidur atau ngantuk aku rasa itu wajar. Baru kali ini suasana makrab lebih hening dibanding celoteh para kodok di halaman.

Waktu berlalu dan rupanya keheningan tadi hanya alibi. Setelah fokus atau lebih tepatnya ngantuk dengan pembahasan sok serius tentang rencana kerja satu tahun kedepan, para panitia KIY 2016 ini bangkit terbang seperti laron yang mendamba cahaya saat tiba waktunya ice breaking. Saat wajah-wajah yang belum familiar terlihat tersenyum penuh semangat, saat itu aku tahu keluarga ini semakin besar juga semakin terikat satu sama lain. Begitu juga saat slide show diputar, tujuan yang ingin dicapai Kakang Prabu sepertinya cukup dimaknai. Hingga akhir acara di sabtu malam, keceriaan dan rasa kantuk salip-menyalip di sebuah rumah besar di pinggir jalan Paris yang basah oleh hujan seharian tadi.

Paginya aku harus kembali ke Jogja karena sudah berjanji untuk membantu seorang teman. Aku tahu bahwa akan banyak keceriaan dan kehebohan yang akan terlewat dari kumpulan optimis ini, tapi janji ini sudah diucap jauh sebelum rencana makrab jadi harus ditepati.

Sejak pagi hingga siang, grup KI Yogyakarta 2016 #4 minim notifikasi. Ini pertanda bagus karena saat orang-orang yang dimanjakan oleh teknologi berkumpul dan tidak tergoda untuk tenggelam kedalam kemudahan dunia maya maka kita boleh yakin ada energi lebih besar yang menarik perhatian mereka. Mari kita anggap saja begitu, setidaknya untuk grup WA KI Yogyakarta 2016 #4.

Kembali ke kelompok optimis ini di tepian Samudera Hindia, panas terik di tengah hari tak sedikitpun mengurangi keceriaan mereka. Diri ini, yang menyusul kembali, tak ingin melewatkan lagi untuk terbawa di dalamnya. Gelora energi mereka ini tak kalah dengan sang samudera, berselaras padu dalam mars kehidupan. Walaupun hanya ikut serta merekam pilah-pilah kisah sejarah ini, namun diri merasa bak mendapatkan asupan energi tak berbatas dari semua keceriaan, kekonyolan ataupun keusilan-keusilan lainnya. Semuanya berenergi, semuanya disusupi energi, samudera, matahari, atmosfer, lebih dari yang dijanjikan PLN apalagi power bank 5000 mAh. Semoga jika suatu saat nanti ada yang lelah di antara kami, maka yang lainnya bisa menjadi penyumbang energi baginya, dari kumpulan energi besar yang pernah digelorakan di tepi Samudera Hindia. Setiap energi istimewa tak sempurna ini harus terus berkembang, berproses, menjadi lebih kuat, menjadi lebih terang agar menjadi penggerak juga penerang dimanapun kisah hidup membawanya kelak.

Hardi Wiratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *