Bajilaks, meminjam bahasa Randra, bukan WS Renda ataupun Randra Randra lainnya, ini Randara, Randara bajilaks. Bajilaks bukan semua umpatan, ataupun sindiran melaikan kata ganti untuk prasangka kebingungan tingkat dewa, tapi hingga saat ini aku belum tau kata “bajilaks” apakah melebihi rasa cinta Imam ke Otti, Dani, Hamid atau malah Farmaditya  yang baru baru ini jadi teman tidurnya. Bajilaks tenan iki. Duh.

“Di suatu hari” ya, sebuah awal tulisan yang sudah sangat sekali di gunakan, mungkin sudah seringnya dipakai, awalan disuatu hari  sudah menjadi mainstream, ah bajilaks banget kata para penulis penulis yang sudah menulis ratusan bahkan ribuan judul artilel. Tapi menurutku, di suatu hari adalah sebuah kata yang bagus untuk awal, ya walaupun mainstream, toh juga nanti yang anti mainstream akan jadi mainstream.

Alarm di sering pukul 9 pagi, ya itu waktu yang sangat nyaman untuk bangun untuk saya. Jika terlalu pagi aku justru bingung mau beraktifitas apa? Sarapan, percayalah sarapan sendiri itu tidak enak. Seperti nonton konser sendiri jugalah sangat membosankan.

Jam 11 aku terbangun, membaca percakapan grup whatsapp yang bejubel dan tak jarang isinya hanya meributkan mau sarapan dimana. Satu dua kali bahkan tiga kali sarapan bareng, aku gagal untuk ikut. Aku bangun sudah jam makan siang. Malam kembali datang, pekerjaan menunpuk.

Alarm aku seting jam 7 pagi, yah harapannya hanya untuk bisa ikut sarapan bareng. Baijilaks, jam 7 masih kurang pagi. Mungkin benar kata fotografer-fotografer karbitan lebih mudah menjadi seorang penulis. Setiap momen bisa ditulis dengan manis, kapan pun dimana pun dengan apapun, sangat beda dengan fotografer yang harus bangun tengah malam menyusuri lembah hanya untuk memotret matahari terbit, bajilaks banget kan. Makanya jangan jadi fotografer.

Tak pernah dapat sarapan bareng, masih ada makan siang atau yang lebih sering disebut maksi. Entah sudah berapa rumah makan hanya menjadi angan-angan untuk maksi. Ternyata maksi itu hanya seperti Bos Febri, ratunya pemberi harapan palsu, wanita yang sangat sering membatalkan janjian di menit menit akhir, hingga kami menjulikinya ratu PHP, nyata tapi fana. Ya mungkin mereka sedang sibuk atau menyibukan diri dengan pekerjaan masing-masing, ntah lah. Aku tidak berani menuduh, aku juga di ajakpun mungkin cuman bisa bilang “nanti malam saja”.

Percakapan semacam itu menjadi keseharian selama 5 bulan terakhir, bangun siang pulang pagi. Dan itu menyenangkan. Setiap harinya membuka email, melihat ada tulisan tulisan lucu dari teman teman, ya mungkin meraka sepertiku orang yang dipakasa menulis padahal suka fotografi. Satu tulisan belum selesai dibalas sudah muncul tulisan baru, bukan tidak mau membalas, tapi saya harus merasakan dengan mata hati telingan dan merasakan dengan lihat terlebih dahulu.

Meminjam lirik kla-project, ” setiap sudut jogja mempunyai keromantisannya” ya mungkin mereka belum merasakan sudut bringharjo, candi karang apalagi sudut bulaksumur yang pesingnya tidak ketulungan. Seperti halnya televisi dan poster yang menawarkan pembukaan pendaftaran mahasiswa di kampus kampus jogja. Ribuan mahasiswa itulah yang membuat jogja pesing. Seks bebes dan coret coret tempok pun merabak. Tapi dibalik semua itu aku masih mendapatkan hikmah, banyak mbak mbak cantik yang aku kenal.

Lantas apa meraka salah kuliah di jogja? Tidak, mereka hanya salah memilih tempat untuk pipis. Mereka tidak tahu dimana mereka harus pipis karena sejak SD sudah terbiasa pipis sembarangan.

Disela sela gang pesing, aku membaca tulisan kelas inspirasi. Pendaftarqn tinggal satu hari lagi, bermodalkan kamera dan buku manual, aku mendaftar dan tersesat di dunia pendidikan sekolah dasar yang rupanya tidak kalah pesing. Anak kecil bercita-cita menjadi PSK, jambret dan koruptor. Tidak tau ini salah siapa? Salah televisi yang sudah mengenalkan beragam profesi tersebut : jambret, PSK, dan koruptor!

Menurutku, koruptor dan jamret adalah sebuah profesi yang baru profesi yang ditimbulkan karena tidaknya orang baik lagi yang muncul di berita televisi. Arsitek, dokter dan penulis sudah tidak laku lagi di jual di televisi.

Teman teman kelas inspirasi kini dengan tekat bulat berusaha mengguyur gang gang pesing tersebut, perlahan namun pasti. Semua boleh berperan serta, ada yang membawa ember, menyediakn air dan hanya yang sekedar memberitahu sumber air, yang paling penting adalah teman, teman ngopi pemuda. Dari sanalah banyak macam cara untuk membuang gang gang pesing.

***

Saat ini teman teman KIY sedang mempersiapkan ember dan air sebanyak mungkin dan teman teman yang lain sedang mempersiapkan nama baru untuk koruptor, karena koruptor sudah masuk dalam undang undang negara dan bahaya jika ketahuan polisi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *