Indonesia, negeri dengan seribu budaya ini bisa diandaikan sebagai rumah Atlantis yang telah tenggelam. Dari mata mancanegara, Indonesia terkenal akan alam, budaya, tata krama, dan sukunya.  Saya masih optimis dengan negara yang ada di kartu penduduk dan paspor yang saya miliki.  Prasangka baik saya mengatakan bahwa negara ini kaya akan alam dan  keberagaman budaya. Saya pun telah terdoktrinisasi oleh tata karma yang telah diturunkan orang tua, walaupun belum sepenuhnya tata karma itu diimplementasikan kehidupan yang telah dijalani.

Ambillah contoh yang umum terjadi, ketika saya bertemu dengan orang yang lebih dewasa, saya memanggil dengan mas atau mbak, salim atau berjabat tangan, mengucapkan salam dan seterusnya. Namun, realita yang terjadi, khususnya pejabat yang duduk manis dan telah membuat akar di kursinya di Gedung Senayan, mengalami suatu kebalikan. Tidak ada budaya yang manis dan baik di situ.  Ada, namun hanya sebuah minoritas. Budaya untuk malu mengakui hal yang salah tidak dilakukan, justru yang ada adalah budaya ‘tips pelicin’ untuk sebuah megaproyek. Padahal, mereka dihasilkan dari sebuah institusi yang seharusnya mencetak manusia yang semanusiawi mungkin.

Saya akan membicarakan perihal tentang  “Korupsi, di lingkungan kita yang berpendidikan.” Retorika jargon “sekolah lah yang tinggi, maka kamu akan menjadi orang hebat” yang sudah terdokumentasi secara pikiran mayoritas orangtua, perlu dibuat mindset baru. Sesungguhnya sekolah adalah untuk memanusiakan manusia, menikmati proses pendidikan, serta mengubah bahwa kritisisme bukanlah pernyataan negatif yang dilontarkan seseorang. Tidak dipungkiri, kita yang tinggal di bumi pertiwi ini telah tersusun oleh hirarki komunitas sosial yang bermayoritas. Realitanya, jika ada minoritas di dalam negeri ini, maka ia akan terkalahkan secara telak oleh mayoritas tersebut. Sama halnya dengan korupsi, tidak ada perubahan istilah yang lebih sederhana atau lembut dalam pengucapan untuk menggantikan istilah korupsi tersebut, layaknya kata ‘banci‘ diubah menjadi ‘transgender‘ atau ‘penyandang cacat‘ diubah menjadi ‘disabilitas‘. Korupsi, ya, korupsi. Tidak ada pembenaran makna dalam kata tersebut.

Seseorang yang melakukan korupsi sudah terbaca bahwa jahat, busuk, serta merusak dan merampas hak manusia lainnya. Ya! Sangat disayangkan bahwa mereka telah dihasilkan oleh universitas namun etika dan moral terbelakang. Tidak perlu mendaki-daki untuk melihat korupsi sampai ke ranah Gedung Senayan. Dari lingkungan sekitar pun, telah banyak ditemui korupsi  yaitu korupsi waktu, korupsi materi, korupsi omongan. Di kalangan mahasiswa pun banyak terjadi hal itu, seperti mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kemudian diperbesar jumlah dananya dan kemudian tidak ada keberlanjutannya.

Boleh saya katakan bahwa manusia bukan hanya seonggok daging yang pada akhirnya hanya menelurkan sebuah teori. Manusia selalu merasa kurang puas apa yang dimiliki. Itu sebabnya apapun dilakukan untuk mendaki menuju status sosial yang lebih tinggi. Saya masih mengkhawatirkan sampai kapan budaya korupsi ini akan melekat pada negeri ini.  Saya masih memimpikan negeri Denmark yang telah terlabel negeri dengan tingkat kepercayaan yang tinggi yang dijunjung oleh masyarakatnya.

Korupsi telah mewabah sampai kalangan terendah. Tidak dipungkiri bahwa masyarakat kelas sosial dan ekonomi rendah pun ikut tenggelam dalam ruang korupsi. 9 Desember 2015 dinobatkan sebagai hari pemilihan kepala daerah nasional. Masyarakat kelas bawah berlomba-lomba untuk memenangkan calon yang telah difanatikkan untuk maju memimpin. Money politic pun telah bermunculan, harga suara untuk 5 tahun mendatang telah dihargai tidak lebih mahal dari sebatang rokok. Pembodohan intelektual masyarakat telah tercipta.

Saya masih memimpikan, sebagaimana Pak Rocky Gerung selaku dosen filsafat Universitas Indonesia mengatakan, bahwa “etika itu tidak ada urusan dengan nasionalisme, ia melampauinya”. Sampai kapan kita mampu beretika dan berpikir logis secara manusia dan tidak lagi menganut logical fallacy (kesesatan berpikir) dalam hal menanggulangi korupsi. Kita mempunyai kuantitas sumber daya manusia yang berlimpah namun belum untuk kualitasnya.

Ya! Mari bersama-sama menindaklanjuti dan menanggulangi korupsi di lingkungan sekitar yang notabene sebagai lingkungan berpendidikan. Tidak perlu berteriak “STOP KORUPSI!” dijalan dengan almamater universitas. Mulailah beretika sederhana untuk bertindak semanusiawi mungkin dan berpikir logis agar egoism tidak menutupi diri. Saya masih optimis dengan negeri ini untuk menjadi negeri dengan masyarakat yang saling percaya dalam bertindak antara  dua kubu. Tidak perlu tangan di bawah meja dalam hal menyelesaikan masalah. Saya ingin Indonesia yang SELO, yang tidak perlu mendaki status sosial yang tinggi supaya terlihat seperti orang kaya yang wah! Saya masih optimis tidak ada korupsi lagi untuk tahun-tahun ke depan.

Imam Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *