Kemarin, 9 Desember 2015, bertepatan dengan peringatan Hari Korupsi Sedunia. Berbagai macam peringatan Hari Korupsi banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia bahkan di dunia. Mulai dari penggalangan aksi menentang korupsi, kampanye anti korupsi, penggunaan baju hitam sebagai lambang berduka akibat maraknya korupsi, dan masih banyak hal lain yang dilakukan. Di Indonesia, sedang marak dibicarakan tentang terbongkarnya skandal perselingkuhan yang dilakukan oleh anggota DPR dengan PT Freeport. Berita perselingkuhan yang mengarah pada tindakan korupsi ini tersebar di seluruh media massa, mulai dari media cetak maupun elektronik, yang berhasil dinobatkan sebagai berita nasional (baca: bencana nasional).

Saya memilih untuk tidak membicarakan tentang skandal tersebut, terlalu melelahkan sepertinya, karena menyangkut moral, hajat hidup orang banyak, asset negara, bahkan melibatkan multi-aspek dan multi-dimensi. Saya memilih untuk membahas korupsi dalam hal yang sederhana. Ingatkah kita tentang peribahasa “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”? Peribahasa tersebut memperlihatkan bahwa kita selalu mencari kesalahan orang lain, bahkan kesalahan yang sangat kecil yang orang lain lakukan pun kita perkarakan, namun kita cenderung tidak mampu melihat kesalahan kita sendiri. Artinya apa? Artinya kita harus berkaca. Berkaca dalam hal apa? Sebelum mencari kesalahan orang lain kita harus mawas diri dan menilai diri kita sendiri apakah sudah lebih baik dari orang tersebut. Lalu apa hubungannya dengan korupsi? Sebelum kita mencaci-maki mereka “di atas sana” menyelewengkan asset negara demi kepentingan pribadi, tidak ada salahnya kita bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu, apakah kita yakin tidak melakukan korupsi walau dalam skala kecil?

Beneran sudah yakin? Mari kita berkaca! Ambillah sebuah kaca dan lihatlah pantulan diri kita di kaca, apakah kita cantik atau ganteng? Eits, kita tidak sedang dalam membicarakan fisik, lho, ya. Cantik atau ganteng itu relatif. Berkacalah dalam rangka mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan, sudah sesuai dengan koridor atau belum.

Sederhananya, mari belajar! Apa saja, sih, batasan korupsi? Apakah korupsi hanya dimaknai sesuai dengan kasus perselingkuhan Ketua DPR vs PT Freeport? Atau korupsi hanya akan dimaknai sesuai dengan Undang-undang? Menurut saya, sih, tidak. Sekali lagi saya tekankan TIDAK. Saya lebih memilih untuk memaknai korupsi secara lebih luas.

Mari belajar! Pertama, korupsi waktu. Mari kita ingat, seberapa sering kita datang tepat waktu saat berangkat kerja, berangkat sekolah atau kuliah, atau bahkan saat punya janji dengan orang lain. Sering sekali kita jumpai janji dengan orang lain pukul sekian tetapi baru datang jangankan menit tapi bisa jadi malah datang sejam atau beberapa jam kemudian. Yakin selalu on time? Mari kita berkaca!

Kedua, korupsi materi. Mari kita ingat, mungkin salah satu dari kita pernah diminta ibu kita untuk membeli sesuatu di warung. Uang kembalian masuk kantong pribadi dan laporan kepada  ibu bahwa tidak ada sisa. Selain itu, mungkin kita juga pernah kehabisan uang atau lupa tidak membawa uang lebih tetapi ingin membeli sesuatu dan pada akhirnya meminjam uang kepada  teman kita. Lalu kita bilang kepada teman kita, “Pinjem duitmu dulu, ya. Besok kubalikin”. Nah, pernah, kan, kita lupa untuk mengembalikan? Pasti ada yang pernah melakukan (walaupun sampai sekarang masih lupa, hehehe). Masih banyak contoh yang lain. Yakin belum pernah melakukan korupsi model ini? Mari kita berkaca!

Ketiga, korupsi kata. Menurut hemat saya, korupsi kata hampir mirip dengan berbohong. Artinya, memotong sejumlah kata dari seluruh kalimat yang seharusnya dikatakan kepada orang lain. Bagi yang sudah berkeluarga, mungkin pernah dengan sengaja atau tidak sengaja mengatakan yang tidak sebenarnya kepada anaknya dengan alasan agar si anak tidak terlalu banyak bertanya. Mari kita ingat kembali, pernahkah kita mengkorupsi kata kepada teman, saudara bahkan orang tua kita. Yakin belum pernah melakukan? Mari kita berkaca!

Apa yang saya sampaikan di atas hanyalah sebagian kecil contoh korupsi yang sering kita lakukan. Masih banyak jenis korupsi lainnya. Mungkin akan saya sampaikan di lain kesempatan. Inti dari tulisan ini adalah bahwa penanganan korupsi membutuhkan waktu yang panjang dan effort yang besar. Korupsi sudah mengakar kuat dan seperti terjadi turun-temurun. Siapa sangka mereka yang saat ini melakukan korupsi dahulu mempunyai idealisme yang tinggi. Namun, karena tuntutan kebutuhan dan iming-iming materi, lalu ‘terjebak‘ melakukan korupsi. Begitu pula halnya dengan kita yang punya tingkatan idealisme masing-masing. Semua orang, termasuk kita, sesungguhnya sangat rentan terhadap tindakan korupsi.

Lalu bagaimana penanggulangan dan penanganan yang paling efektif? Terlepas dari kompleksitas masalah korupsi di Indonesia yang seolah sudah mendarah daging, mengakar dan turun temurun. Apakah bisa dilakukan dengan membasmi orang-orang yang terlibat tindak korupsi tersebut lalu mulai hidup baru? Sudah tentu tidak bisa. Yang paling efektif yaitu mari kita benahi dari dalam diri kita terlebih dahulu. Bisa dibayangkan bagaimana efek positifnya jika setiap orang mau memperbaiki dirinya sendiri lalu mampu memberikan contoh kepada orang lain. Mari kita coba! Sederhananya, kita belajar untuk tepat waktu terhadap apapun, tidak berbohong dalam kondisi apapun, tidak mengurangi yang menjadi hak orang lain, dan lain-lain. Artinya harus ada perbaikan manajemen waktu, manajemen diri, hingga menjaga mulut dan hati. Bagi yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, bagaimana berani mencoba memperbaiki diri untuk dapat memberikan contoh kepada anak/ istri/ suami. Bagaimana si orang tua memberikan contoh dan pelajaran si anak menjadi titik tekan penanggulangan korupsi dalam jangka panjang (baca: pendidikan karakter/ pendidikan usia dini). Bagaimana membentuk karakter dan kebiasaan positif anak sejak dari kecil. Lebih lanjut, bagaimana penanganan korupsi jangka pendek?

Mari kita berkaca dan belajar!

Galih Prabaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *