Akhir pekan kemarin melelahkan. Otak, badan dan perasaan rasanya diperas habis. Ning yo kok isih betah. Selalu begitu setiap kali ikut serta dalam kegiatan volunteerism. Jelas, bukan sekali-dua saya merutuki diri sendiri. Bertanya untuk apa dan demi siapa saya pergi menembus hujan ketimbang memeluk guling, balutan hangat selimut sambil menyeruput secangkir cokelat hangat di rumah. Ada acara yang harus dihadiri: MAKRAB KIY 2016.

Pelan-pelan, saya menuju selatan Jogja. Selain karena jalanan yang licin, lalu lintas hari itu padat. Kemungkinan besar, pada hari itulah orang-orang merayakan kebersamaan mereka bersama keluarga. Di satu perempatan, lampu merah masih akan menyala selama hampir satu menit ke depan. Saya hanya bisa menatap iri ke sebuah mobil yang semua kursinya penuh terisi. Dari balik kaca, saya bisa lihat seseorang memegang sebuah foto. Foto mereka—para penumpang mobil—dengan latar Candi Prambanan. Foto khas liburan keluarga: sang ayah berdiri tegap; ibu, tante, dan nenek bergaya dengan topi super lebar yang baru saja dibeli dari penjual kelililing; adik laki-laki yang mengacungkan salam tiga jari serta kakak perempuan yang tersenyum malu-malu. Tiba-tiba klakson dari motor di belakang saya berbunyi keras. Sudah lampu hijau. Waktunya berlalu melanjutkan perjalanan.

“Sendirian mungkin memang lebih cepat, tetapi bersama-sama akan membawamu pergi lebih jauh.”

Saya kira, benarlah adanya kalimat itu. Lebih baik pergi beramai-ramai ketimbang linglung sendiri di jalan. Apalagi saya sudah terlambat dan siang sudah berganti malam. Berangkatlah saya malam itu bersama Daimas, Mbak Galih, Eno, Aji, Diah, dan Nadia. Saya benar-benar tidak menyesali keputusan itu, karena kabar baiknya, yang saya khawatirkan terjadi. Kami nyasar. Ada kesimpangsiuran petunjuk arah lokasi makrab di grup WhatsApp kami. Biasalah. Selain karena google Maps yang sering geseh, sebab lainnya adalah grup ini memang sangat ramai. Obrolannya bisa mencapai ribuan hitungan. Informasi penting dan sangat penting saling bersahut-sahutan. Memang, diperlukan niat yang teguh untuk memilah keduanya.

Untungnya, tidak perlu waktu yang lama untuk kembali ke jalur yang semestinya. Kami hanya perlu bertanya sekali kepada penduduk setempat, seorang gadis yang ramah dan berbaik hati menjelaskan detail daerah Pundong, yang sebenarnya sedikit sia-sia karena kemampuan navigasi saya menumpul di malam hari. Kami memutar arah, berbalik menuju utara sejauh 5 KM karena jebulnya kami kebablasen. Sebuah penyebab klise bagi orang-orang yang nyasar.

Kami tiba di lokasi yang ditentukan. Sebuah rumah besar yang di halamannya ada banyak pohon pisang dan di dalamnya sudah berkumpul banyak orang. Sekilas tampak begitu serius, tetapi perhatian mereka terpecah karena kedatangan kami. Masih kedinginan, lapar dan semacam jetlag, kami berusaha menyesuaikan diri dengan kerumunan. Yang jelas, senyuman orang-orang yang hadir sebelum kami tidak tampak menghakimi. Semua maklum dengan kesibukan masing-masing. Bahkan, berlanjut pula dengan sapaan dan canda usil yang begitu akrab. Hangat. Semakin hangat dan nyaman dengan hidangan nasi kotak dan secangkir teh. Meskipun demikian, harus saya akui bahwa suasana semacam ini tentu memiliki efek samping. Kantuk menyerang. Lagi-lagi saya menggerutu. Sementara pertemuan masih berlangsung. Kalau mau tidur, ya, jelas pekewuh. Lagipula, sudah jauh-jauh mosok saya tinggal tidur. Cemilan menjadi pelampiasan saya untuk mengembalikan semangat. Tetapi, efeknya hanya sesaat. Di saat itulah saya menyadari bahwa cara terbaik adalah dengan ikut berdiskusi. Tertinggal sekian jam pembahasan tidak masalah, karena ada notulensi yang disorotkan LCD seadanya pada dinding rumah.

Pembicaraan yang disimak baik-baik akan selalu menjadi hal yang menarik. Bergantian, pendapat teman-teman bergulir. Sesekali beriringan, sesekali beradu sudut pandang. Saya ikut angkat tangan, mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan hal-hal yang saya perhatikan. Rasanya menyenangkan. Lega, karena kerumunan ini bisa mendengarkan dan memberikan tanggapan. Tidak ada yang benar-benar salah dan tidak ada yang sepenuhnya benar. Yang penting, kita paham tentang apa dan mengapa kita melakukan sesuatu. Malam itu saya belajar tentang memahami tujuan, baru kemudian menentukan langkah yang akan ditempuh. Belajar bersepakat. Belajar bersemangat.

Semangat ini tampaknya adalah sumber energi yang melimpah. Terlebih pertemuan ini diakhiri dengan kado silang. Kali ini saya dapat gelas. Lagi. Alhamdulillah, tiap kali ikut kado silang, hampir selalu dapat gelas. Terima kasih, ya, wahai kamu, siapapun engkau yang menghadiahi saya sebuah gelas imut berwarna hijau. Selepas pertemuan, banyak orang masih berkumpul membuat kerumunan baru yang lebih kecil. Ada yang baru kenalan. Ada yang bernyanyi-nyanyi. Ada yang bercanda-canda. Ada yang bersiap-siap untuk agenda Minggu pagi. Ada juga yang menempatkan diri mencari-cari posisi tidur terbaik. Pokoknya, kami diberitahu untuk bertemu lagi jam setengah enam pagi.

Demikianlah, malam berlalu dengan cepat. Kami beruntung. Hari Minggu ini begitu cerah. Pagi menjelang dan rumah ini sudah ramai kembali. Berbanding terbalik dengan kondisi grup WhatsApp yang sepi. Kerumunan ini sedang merayakan kebersamaannya. Bukan tersenyum-senyum membaca kutipan legendaris dengan hiasan emoticon. Kali ini gelak tawanya begitu nyata. Apalagi, seluruh anggota badan ikut bergerak. Tidak hanya jempol yang biasanya keju mergo nyecroll chat seko ngisor menduwur.

Setelah selesai senam pagi dan sarapan, kami belajar materi ice breaking dari Mbak Hilmi. Kali ini esnya benar-benar pecah. Hancur. Pergi sajalah itu ‘canggung’ atau ‘sungkan’ disapu suara sopran Mbak Hilmi. Saya cenderung mengamati sekeliling ketika materi disampaikan. Seringkali, saya menemukan hal yang sangat memorable. Totalitas Mbak Galih menarikan ‘Making Melody in My Heart’ adalah salah satunya. Sama gemasnya ketika mengamati panda yang didokumentasikan Ami Vitale di instagramnya.

Hari beranjak siang, sebelum kami pergi outbound sesuai rencana, para fasilitator diminta untuk melakukan simulasi technical meeting. Ada yang berperan sebagai relawan pengajar, fotografer, videografer, pihak sekolah, dan tentu saja fasilitator. Simulasi berjalan alot di kelompok saya, karena kami terlalu menghayati karakter relawan pengajar fiktif yang kami ciptakan. Setidaknya, sudah ada bayangan bahwa kami harus siap dan berusaha diplomatis jika pertanyaan maupun permintaan para relawan pengajar mulai melenceng dari jalur yang ditentukan.

Tibalah waktunya memulai kegiatan terakhir hari itu: outbond. Konsepnya hampir selalu sama. Semua diawali dengan pembentukan kelompok dan tentu saja penciptaan yel-yel. Yang berbeda tentu saja dengan siapa kamu melakukannya. Bisa krik-krik-krik-garing, bisa juga super-duper-gayeng. Selanjutnya, tempat yang akan kami dituju ada di sekitar pantai. Petunjuknya hanya sepotong kalimat: ketajaman yang nikmat dan enak. Apa coba? Sate? Tusuknya tajam, to? Parangendog? Parang– pedang pastilah tajem, endog-telur-enak. Oke, abaikan terjemahan sesat itu. Duren? Bisa jadi, bisa jadi…dan ternyata memang betul. Tetapi, pada akhirnya ada tambahan petunjuk dari Divisi Acara, sang penanggung jawab kegiatan. Ho, ho, ho.

Outbond kami berakhir di tepi Pantai Parangkusumo. Selama perjalanan, kami jadi bisa mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Belum lagi puluhan kali selfie, wefie dan groupfie yang tercipta. Saya jadi ingat foto keluarga yang saya lihat di perempatan kemarin. Saya punya lebih banyak foto. Baik yang terekam di memori handphone dan kamera, juga dalam ingatan saya sepanjang hari itu. Ada keluarga besar yang membersamai saya di sini: ada bapak-bapak, ibu-ibu, beberapa tante yang cerewet tapi baik hatinya, sejumlah om-om hobi foto, belasan mbak-mbak dan mas-mas relawan profesional dan dokumentator yang penuh semangat, puluhan sepupu yang selo, juga ratusan adik-adik SD yang akan kami temui di Hari Inspirasi.

Terima kasih, Kelas Inspirasi Yogyakarta.

 

Diyan Zahro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *