Mohammad Athar, mungkin tak pernah mengira bahwa di masa dewasanya akan menjadi salah satu sosok berpengaruh bagi sebuah bangsa.  Anak kecil yang lahir di Bukittinggi ini hidup dengan adat  Minang yang kental. Setelah menamatkan sekolah ELS (Europeesche Lagere School)  di Padang, petualangannya dalam rimba pengetahuan berlanjut di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan Prins Hendrik Handels School di Jakarta. Langkah penuh semangat dalam merengkuh pendidikan tinggi dilakoninya hingga ia masuk di salah satu kampus elit dunia di Handels Hogeschool atau Economische Hogeschool (sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam) Belanda.

Di Belanda, ia tak hanya belajar tentang pengetahuan umum semata. Kegiatan organisasi dijalani dan membawa namanya menjadi salah satu aktor penting dalam segala proses pembentukan negara merdeka bernama Indonesia.

Ia kemudian dikenal dengan nama Mohammad Hatta, seorang intelektual yang bersanding namanya dengan Ir. Soekarno di teks proklamasi Indonesia. Namanya tak berhenti sebagai wakil presiden semata. Ketika mengingat tentang jalan panjang kehidupan Bung Hatta, maka yang muncul adalah visualisasi tentang sosok yang memiliki disiplin tinggi, sangat teliti, mengerti tentang ihwal ekonomi, dan anti korupsi.

Saat bercerita tentang dinamika yang dialami Bung Hatta selama hidupnya, saya teringat pada sebuah catatan biografinya berjudul “Untuk Negeriku”. Dalam buku tiga jilid tersebut, diceritakan bahwa pada sebuah waktu saat beliau diasingkan di Boven Digul-Papua beliau membawa 16 peti berisi koleksi buku-bukunya. Rasa haus ilmu yang dimiliki Bung Hatta membuatnya tak rela mengisi waktunya dengan hal yang sia-sia. Buku menjadi alat bagi beliau untuk terus mendekat kepada ilmu, dan mendidik dirinya agar tetap taat terhadap nilai-nilai yang pernah dia pelajari saat bersekolah dulu.

Disiplin tinggi yang diterapkan Bung Hatta sangat terlihat saat beliau dipindah ke tempat pengasingan baru di Banda Neira. Bung Hatta berkisah bahwa aktivitas hariannya sangat tertata sejak bangun tidur, berjalan-jalan di sekitar kampung, membaca buku, tidur siang, makan, hingga aktivitas di waktu malam.

Sebagai sosok yang dibesarkan dalam keluarga saudagar, Bung Hatta sangat lekat dengan dunia perdagangan. Suatu ketika Bung Hatta pernah diajak oleh pamannya untuk negosiasi bisnis di Jepang. Segala proses diikutinya sesuai prosedur. Bung Hatta sangat detail mengurus angka-angka, bukan hanya mementingkan laba semata. Di sinilah Bung Hatta sebagai sosok penggema anti-korupsi mulai muncul. Maka tak heran saat negeri besar ini baru lahir, beliaulah yang menangani bermacam urusan administrasi—apalagi yang berkaitan dengan ekonomi. Dari pemikiran beliaulah, hadir konsepsi koperasi. Beliau pula yang menekankan bahwa Republik yang penuh kebhinekaan ini cenderung lebih tepat menerapkan sistem demokrasi.

Bagiku, Bung Hatta bukan hanya identik dengan proklamator. Hidup yang beliau jalani adalah salah satu benchmark bagi rakyat negeri ini. Beliau adalah tokoh yang menjadi bukti bahwa untuk memerangi racun korupsi di negeri ini salah satunya dengan pendidikan. Kalau pendidikan diurus dengan benar, mungkin saja angka korupsi bisa berkurang, bahkan menghilang. Atau, untuk menguras berbagai jenis katalog korupsi, salah satunya bisa melalui penataan pendidikan yang ideal.

Bung Hatta adalah wakil dari keberhasilan seorang intelektual yang mawas diri terhadap keilmuannya dan sosok yang penuh teladan ketika membahas anti korupsi. Sudah selayaknya pribadi-pribadi seperti beliau dihadirkan kembali pada berbagai sektor di bumi pertiwi.

 

Arif Lukman Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *