Konon orang bijak pernah mengatakan jika orang baik tidak akan mati. Ia akan selalu hidup di setiap memori orang-orang yang mengenalnya, atau karya-karya yang mengabadikannya, bahkan manfaat-manfaat yang telah ditunaikan. Menjadi bermakna adalah tujuan setiap manusia dan setiap manusia memiliki masing-masing jalannya. Tak ayal, banyak yang tidak segan mengorbankan waktu, materi dan tenaga. Tentu tidak ada yang gratis di dunia ini, orang-orang baik pasti mengharap imbalannya. Apalagi selain menjadi bermanfaat dan bermakna?

Berkenalan dengan orang-orang baik memang selalu menarik. Selalu ada pelajaran yang dipetik, atau hikmah yang didapat. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia, Kelas Inspirasi Yogyakarta melaksanakan Silaturahmi Relawan Pendidikan dengan tema Merdeka Belajar: Dari Keadaan Kita Belajar, dengan Belajar Kita Perbaiki Keadaan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2020 ini turut dihadiri oleh relawan di bidang yang berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Medan, Sumatera Utara hingga Jayapura, Papua.

Edisi kali ini menghadirkan pembicara yang begitu menginspirasi. Baik oleh pemikirannya, maupun pengabdiannya bagi pendidikan Indonesia. Mereka adalah Erma Kusumawardani, Dosen Program Studi Pendidikan Luar Negeri, Universitas Negeri Yogyakarta. Doni Saputra, Guru Penggerak Daerah Terpencil Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada. Hingga Adinda Meita Putri, Guru SLB N Cicendo Kota Bandung.

Erma Kusumawardani memulai diskusi dengan menekankan akan pentingnya pelajaran bermakna. Dengan latar belakang akademisi, Erma mengklasifikasi pembelajaran murid antara behavioristik dan konstruktivistik. Behavioristik adalah model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan lama, yakni: diberitahu, guru sebagai sumber utama, tekstual, berbasis konten, parsial, jawaban tunggal, hingga ferbalisme.

Menurut Erma, sedikit demi sedikit siswa harus didorong dengan model pembelajaran konstruktivistik, yakni dengan mencari tahu, sumber belajar yang beragam, pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, terpadu, jawaban multi dimensi, kontekstual dan kreatif, hingga fleksibel. Bagi Erma, guru dan buku tidak selalu menjadi sumber utama. Murid sedianya harus dilatih berpikir kritis, hingga dapat menciptakan solusi dengan nalar kreatif.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Doni Saputra yang sedang berada di Kab. Mappi, Papua. Doni lebih membagikan pengalamannya yang mungkin belum atau tidak dialami oleh semua orang. Mengajar di Papua adalah tantangan tersendiri bagi Doni. Ia mendapatkan kondisi yang berbeda, baik infrastruktur pendidikan kurang memadai, serta kompetensi siswa yang jauh berbeda dengan kebanyakan siswa yang ada di kota atau pulau Jawa.

Doni menceritakan ketika pertama kali datang ke Papua, hal yang perlu dilakukannya adalah mengajarkan membaca bagi siswa kelas 6 SD. Jauh tertinggal dari yang seharusnya. Doni kemudian memaklumi hal itu terjadi melihat kondisi yang ada. Hal yang menarik adalah implementasi PJJ (Pembelajatan Jarak Jauh) di masa pandemi.

Menurut Doni, kebijakan tersebut tidak dapat dilaksanakan di daerahnya, mengingat infrastruktur digital belum rampung seutuhnya. Andaikan bisa, masalah justru ada pada orang tua siswa. Kebanyakan dari mereka tidak dapat menulis dan membaca, sehingga bimbingan orang tua tidak maksimal dalam menunjang pembelajaran anak-anaknya. Mau tidak mau, Doni harus mendatangi satu per satu rumah siswanya demi memastikan mereka tidak tertinggal pelajaran.

Di sesi akhir diskusi, ada pemaparan menarik yang dibawakan oleh Adinda Meita Putri. Adinda membagikan ceritanya mengajar murid-murid berkebutuhan khusus di SLB N Cicendo di Kota Bandung. Proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus memilik tantangan tersendiri.

Adinda berpendapat jika murid di SLB itu sangat beragam, sehingga cara mengajar yang disampaikan tidak dapat dipukul rata. Guru harus pintar-pintar mencari teknik mengajarnya sendiri, mengetahui kemampuan dan kekurangan murid, hingga mengelaborasi tindakan selanjutnya dengan tepat sasaran. Untuk hal ini, kreativitas guru benar-benar diuji untuk menemukan jalan keluar yang solutif.

Ada beberapa kesimpulan yang didapatkan dari kegiatan webinar ini. Pertama, mengajar tidak sekedar mengajar. Kedua, pendidikan tidak dapat dipukul rata. Ketiga, semua orang harus ‘turun gunung’ menyukseskan pendidikan, bukan hanya guru.

Pendidikan adalah masalah akar rumput, kebutuhan setiap daerah berbeda, kemampuan setiap siswa beragam. Oleh sebab itu, solusi bagi pendidikan memang sejatinya adalah proyek berkepanjangan. Perlu ditegaskan kembali, tanggung jawab pendidikan bukan milik guru semata, melainkan juga orang tua, lingkungan, sistem dan masyarakat.

Zuliyan M. Rizky

Panitia Lokal Kelas Inspirasi Yogyakarta

Email : [email protected]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *